Tadi siang sempet nongkrong sebentar dengan temen disuatu tempat.. Hmm..kira2 udah skitar 14 tahun tidak ketemu dia..Dia masih sperti dulu..sok jagoan sok akrab dan kadang2 menunjukkan kebegoan akibat rasa ingin tau yang tinggi..Dari ketemu sampai dia pergi kami tidak berjabatan tangan untuk salaman lho..seakan2 kami tidak pernah bpisah untuk jangka waktu yg lama dan seakan2 kami yakin kami akan ketemu lagi suatu saat nanti untuk sebuah nama..
Kami ngolor ngidul berdua tidak jelas..yg terlalu sensitif untuk diungkapkan..yang pasti saling menghina saling mengejek sperti nya langsung terlontarkan tanpa ada rasa risih malu dan segan. Gada gunaya memakai topeng bsama temen2 yg pernah mengalami susah duka bsama.. Mendengar cerita2 yg terungkap kadang membuat kami tertawa terbahak bahak karena cerita2 hal2 yg hanya dilakukan di kaum2 tertentu.. Kadang juga jadi terbengong karena membayangkan hal-hal yg mungkin tidak dapat diterima oleh nalar oleh manusia untuk sebuah nama..
Terlihat ketegangan, capek dan penat pada dia..mungkin sesuatu yg dia kerjakan membuatnya sperti itu..Pengalaman bersama dg dia di masa lalu membuatku mengerti kebiasaan rekan2ku..just like an instinct..Aku pun tidak dapat membantu apapun kecuali sama2 meluangkan waktu sambil tertawa2 seperti dulu kala..yang mungkin dapat sedikit meringankan beban yang harus dia kerjakan pada saat ini untuk sebuah nama..
Well biarlah dia datang dan pergi suka suka dia..Semoga dia dapat lebih banyak meluangkan waktu bsama keluarga.. Jika dia menghubungi..mungkin kita dapat bertemu lagi untuk meluangkan waktu bersama dalam tawa untuk sebuah nama..
Didedikasikan untuk manusia2 yang bersedia menjadi pahlawan tanpa tanda jasa untuk sebuah nama yaitu NKRI selamanya..:)
Thursday, January 15, 2009
Friday, November 30, 2007
Depkeu Tidak Punya Dasar Hukum
Itu adalah judul berita di Kompas tanggal 30 November 2007 halaman 18.
Intisari dari berita tersebut adalah DANA BAGI HASIL (DBH):
Dari dua sisi tersebut didapat data sbb:
1. Menurut sisi Depkeu adalah:
a.) Depkeu mempunyai rencana unuk membayar dana bagi hasil kepada daerah dengan menggunakan surat utang atau obligasi dengan iming2 bond rate 11-12% per 3 bulan.
b.) Langkah yang direncanakan Depkeu merupakan satu dari sembilan langkah pengamanan APBN 2008 untuk memanfaatkan pendapatan yang diterima daerah penghasil migas Rp.13,9 T dengan menempatkan surplus kas daerah itu ke instrumen utang yang bebas resiko, yakni SBN (Surat Berharga Negara).
c.) SBN dibeli langsung oleh daerah untuk mengurangi biaya intermediasi.
d.) Menurut Dirjen Pengelolaan Utang, kebijakan pembayaran DBH dengan menggunakan obligasi pernah dilakukan tahun 2001.
e.) Penjualan obligasi secara terbatas telah sesuai dengan UU No.24/2002 ttg Surat Utang Negara.
2. Menurut Alfitra Salam yang menjabat Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dan Penasihat Asosiasi DPRD Kabupaten Se-Indonesia (Adkasi) adalah:
a.) Depkeu tidak punya dasar hukum untuk hal di poin 1.
b.) Pemerintah Pusat (PP) cemburu kepada Pemerintah Daerah yang selalu menyimpan dananya di SBI.
Apa yang menarik dari perdebatan ttg DBH dari pernyataan2 diatas?
1. Depkeu ingin mengurangi biaya intermediasi.
Dengan menggunakan diagaram, mungkin seperti ini:
saat ini adalah:
PP ---> Pemda ---> BI (SBI) ---> Pemda ---> PP (berbentuk laporan penggunaan dana)
yang ingin dilakukan Depkeu adalah:
PP ---> Pemda ---> PP (berbentuk laporan penggunaan dana).
Jadi fungsi intermediasi dari BI dihilangkan, yang artinya biaya pun juga berkurang. Misal SBI sebesar 9%, pemda mungkin dapat net income dibawah 9% karena ada biaya2 admin yang harus dikeluarkan pemda.
2. Depkeu cemburu dengan pemda yang menaruh di SBI.
Pernyataan dari Alfitra Salam menunjukkan bahwa dia tidak tau fungsi dari SBI sebagai instrumen moneter untuk menjaga jumlah peredaran uang agar dapat menjaga kestabilan rupiah.
Lalu logika saya, jika seseorang ditawarkan bunga yang lebih tinggi plus cost yg semakin berkurang, seharusnya orang itu mau..
Pertanyaannya, kenapa ditolak?? agak aneh bukan..mau diapakan ini uang??
3. Tentu alasan Depkeu memberikan State Bond dengan satu alasan, dimana diketahui bahwa banyak uang pemda yang disimpan di SBI karena pemda tidak mengerjakan apa yg menjadi konsekuensi pemda di APBN.
Dan banyaknya dana pemda di SBI juga membuat puyeng BI karena seharusnya dana tersebut digunakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat malah hanya dibungakan.
Dan supaya diketahui, dari penghasilan daerah tersebut ada yang merupakan jatah pejabat2 pemda yang diatur dengan UU.
Aneh bukan seorang pejabat pemda mendapatkan success fee untuk sesuatu yg bukan merupakan prestasi.
4. Saya rasa alasan Depkeu adalah melihat perekonomian dari sisi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana kita ketahui ga semua pemda kaya.. Jadi apa salahnya jika daerah yg kaya membantu daerah yg miskin or DBH yang dipegang Depkeu digunakan untuk bantuan2 musibah nasional dll.
5. Keberanian Depkeu untuk memberikan rate yang tinggi paling tidak mempunyai 2 alasan ekstrim, pertama Depkeu gila or kedua Depkeu sudah mulai melakukan perubahan internal sehingga mampu memutar uang lebih dari 12%.
Dengan keadaan yang ada saat ini, saya memilih kemungkinan kedua (bukan karena saya pegawai Depkeu lho;p)
6. Dengan memberikan DBH dalam bentuk State Bond, at least, Negara kita bisa mengurangi utang luar negeri yang kita ketahui nilai mata uang kita stabil turun hehehe.. Jadi Negara kita atas pinjaman tersebut harus membayar pokok, bunga dan kurs mata uang. Dan yg lebih gila, untuk pinjaman tersebut, umumnya selalu ada proyek dari negara yg memberi uang dengan membayar ekspatriat negara tsb dan membeli beberapa persen produksi negara tsb. Yang intinya uang itu dikasih ke Indonesia untuk membayar orang asing dengan menggunakan uang orang asing tersebut dan pemerintah harus membayar plus tetek bengeknya hahahaha..
7. Jika ada alasan bahwa Depkeu tidak mempunyai dasar hukum, maka itulah awal dari kehancuran negara Indonesia. Selalu berkutat dengan peraturan terlebih dahulu padahal perekonomian itu dinamis..
Bukankah filosofi dari sebuah aturan hukum adalah terciptanya perubahan ke arah positif. Lalu apakah kita sebagai manusia harus dibatasi oleh peraturan jika akal budi kita tau mana yg benar dan salah or baik and buruk untuk negara kita walopun peraturan belum dibuat??
Intinya seh, marilah kita melihat NKRI sebagai sebuah kesatuan bukan secara partial per pemda, per suku, per agama, per kecantikan or kegantengan;p dll.
Mari kita bangun NKRI menjadi living better for us and anak cucu kita..
Btw, ini hanya logika bodoh saya.. lebih bodoh lagi orang yg percaya dg tulisan saya..Udah baca panjang2.. di hina pula wakakakakakakakak...
Intisari dari berita tersebut adalah DANA BAGI HASIL (DBH):
Dari dua sisi tersebut didapat data sbb:
1. Menurut sisi Depkeu adalah:
a.) Depkeu mempunyai rencana unuk membayar dana bagi hasil kepada daerah dengan menggunakan surat utang atau obligasi dengan iming2 bond rate 11-12% per 3 bulan.
b.) Langkah yang direncanakan Depkeu merupakan satu dari sembilan langkah pengamanan APBN 2008 untuk memanfaatkan pendapatan yang diterima daerah penghasil migas Rp.13,9 T dengan menempatkan surplus kas daerah itu ke instrumen utang yang bebas resiko, yakni SBN (Surat Berharga Negara).
c.) SBN dibeli langsung oleh daerah untuk mengurangi biaya intermediasi.
d.) Menurut Dirjen Pengelolaan Utang, kebijakan pembayaran DBH dengan menggunakan obligasi pernah dilakukan tahun 2001.
e.) Penjualan obligasi secara terbatas telah sesuai dengan UU No.24/2002 ttg Surat Utang Negara.
2. Menurut Alfitra Salam yang menjabat Dewan Pakar Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) dan Penasihat Asosiasi DPRD Kabupaten Se-Indonesia (Adkasi) adalah:
a.) Depkeu tidak punya dasar hukum untuk hal di poin 1.
b.) Pemerintah Pusat (PP) cemburu kepada Pemerintah Daerah yang selalu menyimpan dananya di SBI.
Apa yang menarik dari perdebatan ttg DBH dari pernyataan2 diatas?
1. Depkeu ingin mengurangi biaya intermediasi.
Dengan menggunakan diagaram, mungkin seperti ini:
saat ini adalah:
PP ---> Pemda ---> BI (SBI) ---> Pemda ---> PP (berbentuk laporan penggunaan dana)
yang ingin dilakukan Depkeu adalah:
PP ---> Pemda ---> PP (berbentuk laporan penggunaan dana).
Jadi fungsi intermediasi dari BI dihilangkan, yang artinya biaya pun juga berkurang. Misal SBI sebesar 9%, pemda mungkin dapat net income dibawah 9% karena ada biaya2 admin yang harus dikeluarkan pemda.
2. Depkeu cemburu dengan pemda yang menaruh di SBI.
Pernyataan dari Alfitra Salam menunjukkan bahwa dia tidak tau fungsi dari SBI sebagai instrumen moneter untuk menjaga jumlah peredaran uang agar dapat menjaga kestabilan rupiah.
Lalu logika saya, jika seseorang ditawarkan bunga yang lebih tinggi plus cost yg semakin berkurang, seharusnya orang itu mau..
Pertanyaannya, kenapa ditolak?? agak aneh bukan..mau diapakan ini uang??
3. Tentu alasan Depkeu memberikan State Bond dengan satu alasan, dimana diketahui bahwa banyak uang pemda yang disimpan di SBI karena pemda tidak mengerjakan apa yg menjadi konsekuensi pemda di APBN.
Dan banyaknya dana pemda di SBI juga membuat puyeng BI karena seharusnya dana tersebut digunakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat malah hanya dibungakan.
Dan supaya diketahui, dari penghasilan daerah tersebut ada yang merupakan jatah pejabat2 pemda yang diatur dengan UU.
Aneh bukan seorang pejabat pemda mendapatkan success fee untuk sesuatu yg bukan merupakan prestasi.
4. Saya rasa alasan Depkeu adalah melihat perekonomian dari sisi Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana kita ketahui ga semua pemda kaya.. Jadi apa salahnya jika daerah yg kaya membantu daerah yg miskin or DBH yang dipegang Depkeu digunakan untuk bantuan2 musibah nasional dll.
5. Keberanian Depkeu untuk memberikan rate yang tinggi paling tidak mempunyai 2 alasan ekstrim, pertama Depkeu gila or kedua Depkeu sudah mulai melakukan perubahan internal sehingga mampu memutar uang lebih dari 12%.
Dengan keadaan yang ada saat ini, saya memilih kemungkinan kedua (bukan karena saya pegawai Depkeu lho;p)
6. Dengan memberikan DBH dalam bentuk State Bond, at least, Negara kita bisa mengurangi utang luar negeri yang kita ketahui nilai mata uang kita stabil turun hehehe.. Jadi Negara kita atas pinjaman tersebut harus membayar pokok, bunga dan kurs mata uang. Dan yg lebih gila, untuk pinjaman tersebut, umumnya selalu ada proyek dari negara yg memberi uang dengan membayar ekspatriat negara tsb dan membeli beberapa persen produksi negara tsb. Yang intinya uang itu dikasih ke Indonesia untuk membayar orang asing dengan menggunakan uang orang asing tersebut dan pemerintah harus membayar plus tetek bengeknya hahahaha..
7. Jika ada alasan bahwa Depkeu tidak mempunyai dasar hukum, maka itulah awal dari kehancuran negara Indonesia. Selalu berkutat dengan peraturan terlebih dahulu padahal perekonomian itu dinamis..
Bukankah filosofi dari sebuah aturan hukum adalah terciptanya perubahan ke arah positif. Lalu apakah kita sebagai manusia harus dibatasi oleh peraturan jika akal budi kita tau mana yg benar dan salah or baik and buruk untuk negara kita walopun peraturan belum dibuat??
Intinya seh, marilah kita melihat NKRI sebagai sebuah kesatuan bukan secara partial per pemda, per suku, per agama, per kecantikan or kegantengan;p dll.
Mari kita bangun NKRI menjadi living better for us and anak cucu kita..
Btw, ini hanya logika bodoh saya.. lebih bodoh lagi orang yg percaya dg tulisan saya..Udah baca panjang2.. di hina pula wakakakakakakakak...
Sunday, September 2, 2007
Believe in God or Not?
Believe in God or Not?
Blaise Pascal put together his thoughts about life and religion while he was at Port Royal and published them under the title Pensèes. In the course of his work on that book, he filled two pieces of paper on both sides with what Ian Hacking describes as “handwriting going in all directions…….full of erasures, corrections and seeming afterthoughts”. This fragment has come to be known as Pascal’s Wager (le pari de Pascal), which asks, God is, or he is not. Which way should we incline? Reason can not answer”.
Here drawing on his work in analyzing the probable outcomes of the game of balla, Pascal frames the question in terms of a game of chance. He postulates a game that ends at an infinite distance in time. At that moment, a coin is tossed. Which way would you bet? Heads (God is) or tails (God is not)?
Hacking asserts that Pascal’s line of analysis to answer this question is the beginning of the theory of decision making. “Decision-Theory”, as Hacking describes it, “is the theory of deciding what to do when it is uncertain what will happen” Making that decision is the essential first step in any effort to manage risk.
Sometimes we make decisions on the basis of past experience, out of experiments we or others have conducted in the course of our lifetime. But we cannot conduct experiments that will prove either the existence or the absence of God. Our only alternative is to explore the future consequences of believing in God or rejecting God. Nor can we avert the issue, for by the mere act of living we are force to play this game.
Pascal explained that belief in God is not a decision. You cannot awaken one morning and declare “Today I think I will decide to believe in God. You believe or you do not believe. The decision, therefore, is whether to choose to act in a manner that will lead to believing in God, like living with pious people and following a life of “holy water and sacraments”. The person who follows these precepts is wagering that God is. The person who cannot be bothered with that kind of thing is wagering that God is not.
The only way to choose between a bet that God exists and a bet that there is no God down that infinite distance of Pascal’s coin-tossing game is to decide whether an outcome in which God exists is preferable more valuable in some sense – than an outcome in which God does not exist, even though the probability may be only 50 – 50. This insight is what conducts Pascal down the path to a decision – a choice in which the value of the outcome and the likelihood that it may occur will differ because the consequences of the two outcomes different.
If God is not, whether you lead your life piously or sinfully is immaterial. But suppose that God is. Then if you bet against the existence of God by refusing to live a life of piety and sacraments you run the risk of eternal damnation; the winner of the bet that God exists has the possibility of salvation. As salvation is clearly preferable to external damnation, the correct decision is to act on the basis that God is. “Which way should we incline?”
Against The Gods by Peter L Bernstein
The Remarkable Story of Risk
Footnotes:
1. Blaise Pascal was born in 1623 and known as one of the best mathematician especially as a Geomaster.
2. In his early teens, he invented and patented a calculating machine to ease the dreary task of adding up his father; M Pascal; daily account as a Tax Farmer. This contraption, with gears and wheels that went forward and backward to add and subtract, was similar to the mechanical calculating machines that served as precursors to today’s electronic calculators. The young Pascal managed to multiply and divide on his machine as well and even started work on a method to extract square roots. Unfortunately for the clerks and bookkeepers of the next 250 years.
3. Interestingly, Pascal asked about God is or not, he was not asked about religion. As we know in 16th century, mostly all Europe is powered by religion leader. The objectivity of his idea is very vivid, he ignored all assumptions about all religion in world, only asked the existence of God.
Blaise Pascal put together his thoughts about life and religion while he was at Port Royal and published them under the title Pensèes. In the course of his work on that book, he filled two pieces of paper on both sides with what Ian Hacking describes as “handwriting going in all directions…….full of erasures, corrections and seeming afterthoughts”. This fragment has come to be known as Pascal’s Wager (le pari de Pascal), which asks, God is, or he is not. Which way should we incline? Reason can not answer”.
Here drawing on his work in analyzing the probable outcomes of the game of balla, Pascal frames the question in terms of a game of chance. He postulates a game that ends at an infinite distance in time. At that moment, a coin is tossed. Which way would you bet? Heads (God is) or tails (God is not)?
Hacking asserts that Pascal’s line of analysis to answer this question is the beginning of the theory of decision making. “Decision-Theory”, as Hacking describes it, “is the theory of deciding what to do when it is uncertain what will happen” Making that decision is the essential first step in any effort to manage risk.
Sometimes we make decisions on the basis of past experience, out of experiments we or others have conducted in the course of our lifetime. But we cannot conduct experiments that will prove either the existence or the absence of God. Our only alternative is to explore the future consequences of believing in God or rejecting God. Nor can we avert the issue, for by the mere act of living we are force to play this game.
Pascal explained that belief in God is not a decision. You cannot awaken one morning and declare “Today I think I will decide to believe in God. You believe or you do not believe. The decision, therefore, is whether to choose to act in a manner that will lead to believing in God, like living with pious people and following a life of “holy water and sacraments”. The person who follows these precepts is wagering that God is. The person who cannot be bothered with that kind of thing is wagering that God is not.
The only way to choose between a bet that God exists and a bet that there is no God down that infinite distance of Pascal’s coin-tossing game is to decide whether an outcome in which God exists is preferable more valuable in some sense – than an outcome in which God does not exist, even though the probability may be only 50 – 50. This insight is what conducts Pascal down the path to a decision – a choice in which the value of the outcome and the likelihood that it may occur will differ because the consequences of the two outcomes different.
If God is not, whether you lead your life piously or sinfully is immaterial. But suppose that God is. Then if you bet against the existence of God by refusing to live a life of piety and sacraments you run the risk of eternal damnation; the winner of the bet that God exists has the possibility of salvation. As salvation is clearly preferable to external damnation, the correct decision is to act on the basis that God is. “Which way should we incline?”
Against The Gods by Peter L Bernstein
The Remarkable Story of Risk
Footnotes:
1. Blaise Pascal was born in 1623 and known as one of the best mathematician especially as a Geomaster.
2. In his early teens, he invented and patented a calculating machine to ease the dreary task of adding up his father; M Pascal; daily account as a Tax Farmer. This contraption, with gears and wheels that went forward and backward to add and subtract, was similar to the mechanical calculating machines that served as precursors to today’s electronic calculators. The young Pascal managed to multiply and divide on his machine as well and even started work on a method to extract square roots. Unfortunately for the clerks and bookkeepers of the next 250 years.
3. Interestingly, Pascal asked about God is or not, he was not asked about religion. As we know in 16th century, mostly all Europe is powered by religion leader. The objectivity of his idea is very vivid, he ignored all assumptions about all religion in world, only asked the existence of God.
Renungan di Hari Ulang Tahunku in 2005
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
Dalam keheningan malam, aku mengucapkan pujian syukur ku,
Telah diberi aku kesempatan menikmati hidup satu tahun yang berlalu
Kurenungkan perjalanan hidupku,
Kusadari berkat dan anugrah yang kuterima dari Penciptaku.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
Aku mengucap syukur karena aku diberikan orang tua
yang baik dalam hidupku.
Diberkatilah engkau Bapak ku
Diajari aku berpikir, bertindak dan berkata.
Diajari aku agar kuat hatiku dalam segala hal.
Diajari aku tentang harga diri
Diajari aku mengenal leluhur ku.
Diberkatilah engkau Ibu ku.
Dididik aku untuk mengenal perasaan ku
Dididik aku sehingga jiwaku tenang.
Dididiknya aku mengucap syukur atas segala sesuatu karena kebaikan Mu
Dibiarkan aku menangis di pangkuannya ketika jiwaku rapuh.
Dibuatnya aku tertawa ketika kesusahan hinggap di hatiku.
Diberkatilah engkau saudara-saudara ku..
Diberikan aku saudara yang tidak menjadi beban dalam hidup orang tua ku
Diberikan pada ku seluruh kepercayaan dalam diri mereka,
Sehingga aku bisa memimpin mereka dengan baik,
Diberikan aku saudara yang mau berjuang mendapatkan mimpi mereka.
Aku belajar dari kebaikan dan keburukan keluarga ku.
Aku belajar dari kebenaran dan kesalahan keluarga ku
Aku mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk
belajar menjadi lebih baik
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
Engkau mengijinkan aku meninggalkan rumah orang tua ku
disaat umur ku masih muda.
Engkau ajari aku untuk terbang tinggi bagai rajawali.
Engkau kumpulkan aku bersama jiwa-jiwa muda pilihan Mu
Engkau ajari aku menyimpan air mata ku ketika kesakitan menimpa aku.
Engkau ajari aku menahan semua keluh kesah ku,
Melatihku bersabar dalam penderitaan ku.
Melatih ku tertawa dan bergembira menghadapi segala sesuatu.
Terlebih dari itu,
Engkau membuat ku mempunyai banyak saudara
yang akan selalu bersama dalam susah dan senang.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Engkau ajari aku dalam pekerjaan ku.
Banyak pekerjaan yang telah ku lakukan,
Diajari aku dari semua kesalahan yang ku lakukan.
Diajari aku bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ku inginkan.
Diajari aku mengucap syukur atas berkat yang telah diberi.
Diberi aku pengertian ketika aku mengambil keputusan.
Diberi aku kesejahteraan sesuai jalan yang benar.
Diberi aku teman-teman yang membuka wawasan dalam pekerjaan dan pergaulan.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Dalam perjalanan hidup ku, di pegang tangan ku.
Banyak kesalahan yang telah ku buat.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku terkadang
menyesali kebodohan ku.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku sedih ketika aku ber andai.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku ingin memutar
kembali waktu yang berlalu,
Dalam pergaulan ku, dalam pendidikan ku dalam pekerjaan ku.
Terlebih dari itu,
Diajari aku mengurangi ke aku an ku, ego ku, sombong ku dan munafik ku
Diajari aku sehingga hati ku semakin mengenal Pencipta ku
Diberi aku hati yang mau belajar untuk mengerti
kebaikanNya dalam hidup ku
Biarlah aku dalam ke aku an ku semakin lemah agar
tampaklah kekuatan Mu
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Dikabulkan permintaan ku ketika aku meminta
Ketika aku minta agar dibeban kan padaku semua
kesalahan keluargaku disaat muda ku
Karena tidak ingin ku lihat duka dan air mata
saudara-saudara ku
Karena tidak ingin ku lihat duka dan air mata
keturunan ku nantinya.
Ketika orang-orang mencibir dan merendahkan ku
sehingga hilang asa ku.
Ketika aku berkeluh kesah berjuang untuk membuktikan
apa yang ku percaya
Ketika ditinggalkan aku oleh orang-orang yang kucintai
karena aib yang melekat pada ku
Diberi aku penghiburan, di kuatkan jiwa ku
Diberi padaku sesuai apa yang kubutuhkan tidak apa
yang ku inginkan
Hanya pada Mu mata ku menatap
Hanya pada Mu kusandarkan hidup
Tidak ditimpakan murka Nya pada ku setimpal dengan dosa-dosa ku.
Karena Dia baik, amat baik dan sangat teramat baik buat jiwa ku
Dia lah benteng keselamatan ku, kubuh pertahan ku perisai yang menahan ku
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Tidak ku inginkan kekayaan jika aku harus berlaku tidak adil
Tidak ku inginkan harta benda jika banyak sumpah
serapah menimpaku dan keturunanku
Tidak ku inginkan melihat dan memiliki isi dunia jika
aku harus kehilangan jiwa ku.
Apalah artinya aku miliki yang ku inginkan jika jiwa
ku hilang dalam kesombongan, keangkuhan, menjadi
munafik dan melupakan Mu sebagai sumber berkat dalam hidup ku
Tidak ku inginkan kehancuran musuh-musuh ku suatu hari
nanti, karena pembalasan adalah hak Mu, karena
yang ku inginkan hanya yang baik buat dalam hidup ku
untuk jiwaku sesuai kehendak Mu.
Biarlah hidup ku berkecukupan seperti yang Engkau inginkan.
Karena aku percaya, tidak pernah anak cucu orang benar mengemis.
Karena aku percaya, ketika Engkau membuka pintu, tidak
ada seorang pun yang dapat menutupnya dan ketika
Engkau menutup pintu, tidak ada seorang pun yang dapat membukanya.
Biarlah aku hidup sesuai dengan rencana Mu.
Karena aku percaya, Engkau akan memberikan satu per satu
ketika Engkau tahu bahwa aku telah siap untuk diberi tanggung jawab lebih.
Karena aku percaya, hari – hari yang ku lalui dalam
penderitaan saat ini tidak dapat ku banding kan dengan
tahun-tahun yang kebahagian dalam hidup ku yang telah
Engkau berikan, terlebih dalam masa mendatang.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Jika Engkau berkenan pada pinta ku,
Ijinkan aku menjadi sumber berkat bagi sesama ku,
Ijinkan aku untuk selalu dalam bimbingan Mu,
Karena ku tahu, ketika Engkau menghukum itu karena kesalahan ku.
Karena ku tahu, ketika Engkau mengijinkan pencobaan itu untuk kebaikan ku
Kerena ku tahu, Engkau yang akan memberi kekuatan padaku
Ijinkan aku menceritakan kebaikan Mu dalam hidup ku
kepada anak cucu ku.
Ijinkan aku mengetahui ketika senja ku tiba, ketika
aku mendekati garis akhir pertandingan dalam hidup ku.
Ijinkan aku mengigat sekali lagi perjalan hidup ku
sehingga aku dapat tersenyum dan berkata :
“ Telah ku lalui semua bersama Mu, tidak ada lagi yang
akan ku sesali dan telah di genapi semua yang telah
tertulis dalam hidup ku.”
Ijinkan aku untuk merasa siap dan berkata “Panggil lah
jiwaku kembali ya Tuhan ku, panggil lah jiwaku pulang
ke rumah Bapa ku”
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
gtp
Saepe Expertus, Semper Fidelis, Fratres Aeterni
Thanks for being my friends...
Dalam keheningan malam, aku mengucapkan pujian syukur ku,
Telah diberi aku kesempatan menikmati hidup satu tahun yang berlalu
Kurenungkan perjalanan hidupku,
Kusadari berkat dan anugrah yang kuterima dari Penciptaku.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
Aku mengucap syukur karena aku diberikan orang tua
yang baik dalam hidupku.
Diberkatilah engkau Bapak ku
Diajari aku berpikir, bertindak dan berkata.
Diajari aku agar kuat hatiku dalam segala hal.
Diajari aku tentang harga diri
Diajari aku mengenal leluhur ku.
Diberkatilah engkau Ibu ku.
Dididik aku untuk mengenal perasaan ku
Dididik aku sehingga jiwaku tenang.
Dididiknya aku mengucap syukur atas segala sesuatu karena kebaikan Mu
Dibiarkan aku menangis di pangkuannya ketika jiwaku rapuh.
Dibuatnya aku tertawa ketika kesusahan hinggap di hatiku.
Diberkatilah engkau saudara-saudara ku..
Diberikan aku saudara yang tidak menjadi beban dalam hidup orang tua ku
Diberikan pada ku seluruh kepercayaan dalam diri mereka,
Sehingga aku bisa memimpin mereka dengan baik,
Diberikan aku saudara yang mau berjuang mendapatkan mimpi mereka.
Aku belajar dari kebaikan dan keburukan keluarga ku.
Aku belajar dari kebenaran dan kesalahan keluarga ku
Aku mengucap syukur karena diberi kesempatan untuk
belajar menjadi lebih baik
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.
Engkau mengijinkan aku meninggalkan rumah orang tua ku
disaat umur ku masih muda.
Engkau ajari aku untuk terbang tinggi bagai rajawali.
Engkau kumpulkan aku bersama jiwa-jiwa muda pilihan Mu
Engkau ajari aku menyimpan air mata ku ketika kesakitan menimpa aku.
Engkau ajari aku menahan semua keluh kesah ku,
Melatihku bersabar dalam penderitaan ku.
Melatih ku tertawa dan bergembira menghadapi segala sesuatu.
Terlebih dari itu,
Engkau membuat ku mempunyai banyak saudara
yang akan selalu bersama dalam susah dan senang.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Engkau ajari aku dalam pekerjaan ku.
Banyak pekerjaan yang telah ku lakukan,
Diajari aku dari semua kesalahan yang ku lakukan.
Diajari aku bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ku inginkan.
Diajari aku mengucap syukur atas berkat yang telah diberi.
Diberi aku pengertian ketika aku mengambil keputusan.
Diberi aku kesejahteraan sesuai jalan yang benar.
Diberi aku teman-teman yang membuka wawasan dalam pekerjaan dan pergaulan.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Dalam perjalanan hidup ku, di pegang tangan ku.
Banyak kesalahan yang telah ku buat.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku terkadang
menyesali kebodohan ku.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku sedih ketika aku ber andai.
Kesalahan-kesalahan yang membuat ku ingin memutar
kembali waktu yang berlalu,
Dalam pergaulan ku, dalam pendidikan ku dalam pekerjaan ku.
Terlebih dari itu,
Diajari aku mengurangi ke aku an ku, ego ku, sombong ku dan munafik ku
Diajari aku sehingga hati ku semakin mengenal Pencipta ku
Diberi aku hati yang mau belajar untuk mengerti
kebaikanNya dalam hidup ku
Biarlah aku dalam ke aku an ku semakin lemah agar
tampaklah kekuatan Mu
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Dikabulkan permintaan ku ketika aku meminta
Ketika aku minta agar dibeban kan padaku semua
kesalahan keluargaku disaat muda ku
Karena tidak ingin ku lihat duka dan air mata
saudara-saudara ku
Karena tidak ingin ku lihat duka dan air mata
keturunan ku nantinya.
Ketika orang-orang mencibir dan merendahkan ku
sehingga hilang asa ku.
Ketika aku berkeluh kesah berjuang untuk membuktikan
apa yang ku percaya
Ketika ditinggalkan aku oleh orang-orang yang kucintai
karena aib yang melekat pada ku
Diberi aku penghiburan, di kuatkan jiwa ku
Diberi padaku sesuai apa yang kubutuhkan tidak apa
yang ku inginkan
Hanya pada Mu mata ku menatap
Hanya pada Mu kusandarkan hidup
Tidak ditimpakan murka Nya pada ku setimpal dengan dosa-dosa ku.
Karena Dia baik, amat baik dan sangat teramat baik buat jiwa ku
Dia lah benteng keselamatan ku, kubuh pertahan ku perisai yang menahan ku
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Tidak ku inginkan kekayaan jika aku harus berlaku tidak adil
Tidak ku inginkan harta benda jika banyak sumpah
serapah menimpaku dan keturunanku
Tidak ku inginkan melihat dan memiliki isi dunia jika
aku harus kehilangan jiwa ku.
Apalah artinya aku miliki yang ku inginkan jika jiwa
ku hilang dalam kesombongan, keangkuhan, menjadi
munafik dan melupakan Mu sebagai sumber berkat dalam hidup ku
Tidak ku inginkan kehancuran musuh-musuh ku suatu hari
nanti, karena pembalasan adalah hak Mu, karena
yang ku inginkan hanya yang baik buat dalam hidup ku
untuk jiwaku sesuai kehendak Mu.
Biarlah hidup ku berkecukupan seperti yang Engkau inginkan.
Karena aku percaya, tidak pernah anak cucu orang benar mengemis.
Karena aku percaya, ketika Engkau membuka pintu, tidak
ada seorang pun yang dapat menutupnya dan ketika
Engkau menutup pintu, tidak ada seorang pun yang dapat membukanya.
Biarlah aku hidup sesuai dengan rencana Mu.
Karena aku percaya, Engkau akan memberikan satu per satu
ketika Engkau tahu bahwa aku telah siap untuk diberi tanggung jawab lebih.
Karena aku percaya, hari – hari yang ku lalui dalam
penderitaan saat ini tidak dapat ku banding kan dengan
tahun-tahun yang kebahagian dalam hidup ku yang telah
Engkau berikan, terlebih dalam masa mendatang.
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
Jika Engkau berkenan pada pinta ku,
Ijinkan aku menjadi sumber berkat bagi sesama ku,
Ijinkan aku untuk selalu dalam bimbingan Mu,
Karena ku tahu, ketika Engkau menghukum itu karena kesalahan ku.
Karena ku tahu, ketika Engkau mengijinkan pencobaan itu untuk kebaikan ku
Kerena ku tahu, Engkau yang akan memberi kekuatan padaku
Ijinkan aku menceritakan kebaikan Mu dalam hidup ku
kepada anak cucu ku.
Ijinkan aku mengetahui ketika senja ku tiba, ketika
aku mendekati garis akhir pertandingan dalam hidup ku.
Ijinkan aku mengigat sekali lagi perjalan hidup ku
sehingga aku dapat tersenyum dan berkata :
“ Telah ku lalui semua bersama Mu, tidak ada lagi yang
akan ku sesali dan telah di genapi semua yang telah
tertulis dalam hidup ku.”
Ijinkan aku untuk merasa siap dan berkata “Panggil lah
jiwaku kembali ya Tuhan ku, panggil lah jiwaku pulang
ke rumah Bapa ku”
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya
gtp
Saepe Expertus, Semper Fidelis, Fratres Aeterni
Thanks for being my friends...
Friday, July 20, 2007
Branding
A. Brands and Breakthroughs: How brands help focus creative decision making
(Nicholas Ind & Cameron Watt)
Early literature on creativity focused on personal idea. In recent years, this work has shifted its focus to developing work environments that inspire and facilitate creativity. It is equally important for organizations to choose and develop the right ideas. Analysis of organizations that are successful innovators suggests the answer to successful judgment lies in what can be conceptualized as an organization’s level of situational intelligence. Adopt a brand-led approach that emphasizes elements associated with intellectual capital. Situational intelligence thus represents a duality of organization self-knowledge about brands, core competences, capabilities, culture and stakeholders and the ability to use that knowledge to focus, resource, motivate and effectively form and implement strategies that fit within and reflect these situational constructs. The difficulty here is that when situational intelligence is poor, organizations seem to default to traditional methodologies that reinforce risk-averse behavior or generate stakeholder barrier that alienate employees from each other as well as external stakeholders, such as:
1. Over reliance on traditional customer research dampens creativity because it is essentially backward looking. It makes the assumption that customers have the ability to envision the future, to know what they will desire in future.
2. Reliance in research is that of abstraction. As soon as companies start seeing numbers, they forget people. Companies start to believe that their new product is a guaranteed success because a certain percentage of people have said they would buy it or like products designed. Companies do not unearth depth or richness of customers’ desires, perceptions and expectations.
The process of being observed affects behavior. Observation encourages more conscious awareness and consideration than is actually given to most everyday decision. When new products are challenging, companies undermine people’s stereotypical views of how thins should be. It is certainly the case that stereotypes are often applied unthinkingly when people are presented with something new. However, when there is time, space, and encouragement people can question their stereotypes and become converts to a new way of thinking.
Most of the organizations interviewed for the present study exhibited a more intuitive way of understanding the future rely on a deep seated understanding of themselves and their customers or end users. It can be argued that this helps foster continuous creativity, effective judgment and successful innovation. At its best, organizational creativity creates tension by challenging stakeholders’ preconceptions of what product or service should do. When people engage with the idea, they begin to review the comparative experience to other products. The greater trend toward personalized service in other organizations, the more people have expectation of its possibility everywhere.
The key question of how organizations can recognize, develop and use brands as part of their situational intelligence portfolio are enhance creative decision making and increase significant innovation and value creation. The brand definition frames the context, provides boundaries, set benchmarks, creates clarity and focuses energy. However, if misunderstood or misused it and become a creative millstone that limits potential and holds companies back from achieving innovative breakthrough. The ideas contained within the brand should be credible to employees and reflect current organizational reality, while also containing elements that stretch the organization towards what it desires to become.
The problems in many organizations are that the brand is under-utility. The may steer marketing communications, but it is not fully embedded into creative thinking and innovation by other employees also customers, this is a major problem in most companies. This leads to a gap between the philosophical-sounding brand values and the everyday, critical decisions in a project.
A well understood brand provides a framework in companies that does not hinder transformational innovation but instead generates clarity, vision and focus for staff. It also provides a constructs formed from a deep and empathetic understanding or the brand and its relationship with customers and so facilitates intuitive decision making. The brand also provides the benchmark against which decisions are evaluated and measured. An understanding of the brand ensures clarity of image and enhances customer experience, increases intrinsic motivation for employees, organizational knowledge and stakeholder engagement, all of which help promote trust and facilitate creative behavior.
Understanding stakeholders’ needs and experiences with a brand should be based on a combination of well considered research and the collected experiences of managers. Team members, employees, supply chain partners and customers. Everyone knows that organizations should be listening to customers, competitors and markets, active listening and reflection describe something else. Active listening and reflecting only really occurs when people have an intrinsic interest in and a belief in or passion for the subject. This signifies two important roles for leaders. First they are definers and champions of a vision that inspires staff, secondly they have the responsibility to encourage both internally and externally the positive questioning and debate that facilitates creative action.
Innovative brands attract and employ quality and they nurture and stimulate then to question. Innovation requires confidence coupled with a willingness to be open to new ideas. Arrogance and blinkered thinking lead to creative failure and are the characteristic of mediocrity.
B. An Investigation into Values Dimensions of Branding : Implications for the Charity Sector.
(Helen Stride)
Brand is a complex multidimensional construct whereby managers augment products and services with values and this facilitates the process by which consumers confidently recognize and appreciate these values. The easiest way for consumer to know if a brand’s value reflects their own values is via a brand personality. The brand is imbued with human values and characteristics which of consumer identify e.g. genuine, energetic, rugged etc. The brand personality construct fulfils a range of different symbolic functions for consumers that relate to the need for social approval or personal expression. Anthropomorphizing inanimate objects is universal and is thought to occur so that human beings may make sense of their relationship with the material world. Before looking at the values dimensions of brand in greater detail, and their applicability in the charity context it is important to consider the role that values play in the charity context and explore how branding is currently applied charitable organizations.
It is argued that the maintenance and development of values is important both to the sector and to the wider society. Charities must be explicit about their values and philosophy, which should then become the bedrock of their work. Charities should form an integral part of the mission and vision statements and underpin the marketing operation. For an organization to work towards a specific charitable purpose of benefit to society, it must have a value system that both underpins and indeed drives the charity’s operations.
Branding is being adopted by some charities as a way of differentiating from other organizations. Brand personalities in the charity sector are often confused, resulting in different stakeholders perceiving brands in different ways. A brand that emerges from the organization and therefore reinforces its values also facilitates the building of trust. Trust is considered to be of particular importance in the charity context playing a central role in determining donor behavior by offering assurance that funds are being used appropriately.
The metaphor of mirror is used to demonstrate how the values with which consumers identify or to which they aspire are mirrored back to them via the brand image. Crucial to the success of branding is that the self can also be extended symbolically if an object or branding is perceived to have values, qualities or characteristics to which the consumers aspire. The values to which consumers aspire and which are reflected back to them via the brand image, are a manifestation of irrational needs rather than rational choice. The brand personality construct would appear to have a fundamentally different role to play in charities if it is so help facilitate the process of creating identities as values based organizations.
The metaphor of brand as lamp is used to illustrate how a brand’s own unique values are shone like a light externally and internally in an attempt to influence the values of its target audience and those of the host organizations. As lamp, brands are imbued with distorted individual and social values, the sole aim of which is to influence purchasing behavior. Also brand as a lamp is to approach focuses on employee involvement in brand relationship building. The brand performance is enhanced if instead of the brand reflecting the values of the organization, the values of organization are aligned with those of the brand with staff demonstrating their commitment to the delivery of these values. Whilst the normative nature of charitable activity means that it is not the role of charities to create needs and desires that will result in greater consumption, many have been criticized for using advertising to manipulate audiences by eliciting feelings of anger.
The metaphor of lens brand projects with clarity and precision the values upon which the organization is based. The focus then moves away from brand image that is continually changing to organizations reputations that are more constant. Projecting the non negotiable values that underpin a charity’s mission and that emanate from the organization’s culture that branding is most applicable and effective in the charity context. It is only by developing a brand identity around values that are shared by the organization’s key stakeholders that a charity can claim that its values system underpins its activities and is indeed its very reason for existing. As lens, branding provides a tool whereby charities can benefit from differentiation while also developing their identity as values-led organizations. Having identified its core values, a charity must either seek out supporters and donors whose values reflect its own or aim to create a vision that is so powerful that it inspires people to share both its vision and values.
C. Behind the Brand: is business socially responsible?
(Rebecca Collings)
Another preference to the shifting balance of power between producers and consumers is to describe the rise of CSR as the move from a shareholder to a stakeholder economy. Behind the rise of CSR is a growing body of evidence to suggest that consumer demand for sustainable goods and services is on the increase. If companies really do want to be CSR compliant, how can their business process inform the development of ethical products and services that have a viable level of demand? The response of business is further complicated by consumers’ apparently bipolar attitude to socially and environmentally sound products and services.
A responsible organization does the right thing in the eyes of all of its stakeholders. To know each of its stakeholder groups regards as the right thing involves a dialogue with each of these groups and requires modifying the organization’s behavior accordingly. To track that change in behavior, sector benchmarks and key performance indicators must be established and the organization’s progress towards them continuously measure.
Form table 3, the conclusion can get is CSR initiatives work much better when they are linked to an organization’s core business and the way in which it impacts on stakeholders. Cheque book charity does not create the dividend growth of a response to stakeholder issues that leverages a business market or operational opportunities. Mapping a business’ operational activity to the sustainability agenda at the heart of CSR produces many interesting possibilities. One high strees mortgage lender was promoting CSR activity based on time off for staff to work in the community. Worthwhile, but does not leverage the company’s core business or its ability to influence consumer choices.
The strengths and opportunities offered by a CSR framework are exactly what it takes to sustain and expand a business, but only once the weakness and threats have been identified in order to manage risk and cost.
As consumer glamour for more ethically and socially responsible products and services has increased, so CSR programs in the corporate sector have grown. CSR programs should initially focus on weakness and threats, inefficiencies and risks. After all, if CSR programs do not offer business benefits or at least counter potential risks, they are never likely to get off the ground.
CONCLUSION
The benefit of learning marketing for me at this moment is how strategy in branding which is only a simple word can give big impact in human behavior. More important, strategy marketing in branding can use in social activities like charities organization that helping human being and all living kinds in this world. Recently, new strategy in marketing involves how companies can get consumers by sharing the benefit to the social activities. The misunderstanding in using branding in companies and even charities organization can lead them fail to get their missions. For me, branding is a genius thing in the world, to learning branding not only need experiences but also creativity how to see market, consumers perceptions and companies visions with all the staff.
Some important points about branding are :
1. Adopt a brand-led approach that emphasizes elements associated with intellectual capital.
2. The key question of how organizations can recognize, develop and use brands as part of their situational intelligence portfolio are enhance creative decision making and increase significant innovation and value creation.
3. The ideas contained within the brand should be credible to employees and reflect current organizational reality, while also containing elements that stretch the organization towards what it desires to become.
4. An understanding of the brand ensures clarity of image and enhances customer experience, increases intrinsic motivation for employees, organizational knowledge and stakeholder engagement, all of which help promote trust and facilitate creative behavior.
5. The easiest way for consumer to know if a brand’s value reflects their own values is via a brand personality. The brand is imbued with human values and characteristics which of consumer identify e.g. genuine, energetic, rugged etc. The brand personality construct fulfils a range of different symbolic functions for consumers that relate to the need for social approval or personal expression.
6. The metaphor of mirror is used to demonstrate how the values with which consumers identify or to which they aspire are mirrored back to them via the brand image. The metaphor of brand as lamp is used to illustrate how a brand’s own unique values are shone like a light externally and internally in an attempt to influence the values of its target audience and those of the host organizations. The metaphor of lens brand projects with clarity and precision the values upon which the organization is based.
7. Having identified its core values, a charity must either seek out supporters and donors whose values reflect its own or aim to create a vision that is so powerful that it inspires people to share both its vision and values.
8. To track that change in behavior, sector benchmarks and key performance indicators must be established and the organization’s progress towards them continuously measure.
9. As consumer glamour for more ethically and socially responsible products and services has increased, so CSR programs in the corporate sector have grown. CSR programs should initially focus on weakness and threats, inefficiencies and risks
(Nicholas Ind & Cameron Watt)
Early literature on creativity focused on personal idea. In recent years, this work has shifted its focus to developing work environments that inspire and facilitate creativity. It is equally important for organizations to choose and develop the right ideas. Analysis of organizations that are successful innovators suggests the answer to successful judgment lies in what can be conceptualized as an organization’s level of situational intelligence. Adopt a brand-led approach that emphasizes elements associated with intellectual capital. Situational intelligence thus represents a duality of organization self-knowledge about brands, core competences, capabilities, culture and stakeholders and the ability to use that knowledge to focus, resource, motivate and effectively form and implement strategies that fit within and reflect these situational constructs. The difficulty here is that when situational intelligence is poor, organizations seem to default to traditional methodologies that reinforce risk-averse behavior or generate stakeholder barrier that alienate employees from each other as well as external stakeholders, such as:
1. Over reliance on traditional customer research dampens creativity because it is essentially backward looking. It makes the assumption that customers have the ability to envision the future, to know what they will desire in future.
2. Reliance in research is that of abstraction. As soon as companies start seeing numbers, they forget people. Companies start to believe that their new product is a guaranteed success because a certain percentage of people have said they would buy it or like products designed. Companies do not unearth depth or richness of customers’ desires, perceptions and expectations.
The process of being observed affects behavior. Observation encourages more conscious awareness and consideration than is actually given to most everyday decision. When new products are challenging, companies undermine people’s stereotypical views of how thins should be. It is certainly the case that stereotypes are often applied unthinkingly when people are presented with something new. However, when there is time, space, and encouragement people can question their stereotypes and become converts to a new way of thinking.
Most of the organizations interviewed for the present study exhibited a more intuitive way of understanding the future rely on a deep seated understanding of themselves and their customers or end users. It can be argued that this helps foster continuous creativity, effective judgment and successful innovation. At its best, organizational creativity creates tension by challenging stakeholders’ preconceptions of what product or service should do. When people engage with the idea, they begin to review the comparative experience to other products. The greater trend toward personalized service in other organizations, the more people have expectation of its possibility everywhere.
The key question of how organizations can recognize, develop and use brands as part of their situational intelligence portfolio are enhance creative decision making and increase significant innovation and value creation. The brand definition frames the context, provides boundaries, set benchmarks, creates clarity and focuses energy. However, if misunderstood or misused it and become a creative millstone that limits potential and holds companies back from achieving innovative breakthrough. The ideas contained within the brand should be credible to employees and reflect current organizational reality, while also containing elements that stretch the organization towards what it desires to become.
The problems in many organizations are that the brand is under-utility. The may steer marketing communications, but it is not fully embedded into creative thinking and innovation by other employees also customers, this is a major problem in most companies. This leads to a gap between the philosophical-sounding brand values and the everyday, critical decisions in a project.
A well understood brand provides a framework in companies that does not hinder transformational innovation but instead generates clarity, vision and focus for staff. It also provides a constructs formed from a deep and empathetic understanding or the brand and its relationship with customers and so facilitates intuitive decision making. The brand also provides the benchmark against which decisions are evaluated and measured. An understanding of the brand ensures clarity of image and enhances customer experience, increases intrinsic motivation for employees, organizational knowledge and stakeholder engagement, all of which help promote trust and facilitate creative behavior.
Understanding stakeholders’ needs and experiences with a brand should be based on a combination of well considered research and the collected experiences of managers. Team members, employees, supply chain partners and customers. Everyone knows that organizations should be listening to customers, competitors and markets, active listening and reflection describe something else. Active listening and reflecting only really occurs when people have an intrinsic interest in and a belief in or passion for the subject. This signifies two important roles for leaders. First they are definers and champions of a vision that inspires staff, secondly they have the responsibility to encourage both internally and externally the positive questioning and debate that facilitates creative action.
Innovative brands attract and employ quality and they nurture and stimulate then to question. Innovation requires confidence coupled with a willingness to be open to new ideas. Arrogance and blinkered thinking lead to creative failure and are the characteristic of mediocrity.
B. An Investigation into Values Dimensions of Branding : Implications for the Charity Sector.
(Helen Stride)
Brand is a complex multidimensional construct whereby managers augment products and services with values and this facilitates the process by which consumers confidently recognize and appreciate these values. The easiest way for consumer to know if a brand’s value reflects their own values is via a brand personality. The brand is imbued with human values and characteristics which of consumer identify e.g. genuine, energetic, rugged etc. The brand personality construct fulfils a range of different symbolic functions for consumers that relate to the need for social approval or personal expression. Anthropomorphizing inanimate objects is universal and is thought to occur so that human beings may make sense of their relationship with the material world. Before looking at the values dimensions of brand in greater detail, and their applicability in the charity context it is important to consider the role that values play in the charity context and explore how branding is currently applied charitable organizations.
It is argued that the maintenance and development of values is important both to the sector and to the wider society. Charities must be explicit about their values and philosophy, which should then become the bedrock of their work. Charities should form an integral part of the mission and vision statements and underpin the marketing operation. For an organization to work towards a specific charitable purpose of benefit to society, it must have a value system that both underpins and indeed drives the charity’s operations.
Branding is being adopted by some charities as a way of differentiating from other organizations. Brand personalities in the charity sector are often confused, resulting in different stakeholders perceiving brands in different ways. A brand that emerges from the organization and therefore reinforces its values also facilitates the building of trust. Trust is considered to be of particular importance in the charity context playing a central role in determining donor behavior by offering assurance that funds are being used appropriately.
The metaphor of mirror is used to demonstrate how the values with which consumers identify or to which they aspire are mirrored back to them via the brand image. Crucial to the success of branding is that the self can also be extended symbolically if an object or branding is perceived to have values, qualities or characteristics to which the consumers aspire. The values to which consumers aspire and which are reflected back to them via the brand image, are a manifestation of irrational needs rather than rational choice. The brand personality construct would appear to have a fundamentally different role to play in charities if it is so help facilitate the process of creating identities as values based organizations.
The metaphor of brand as lamp is used to illustrate how a brand’s own unique values are shone like a light externally and internally in an attempt to influence the values of its target audience and those of the host organizations. As lamp, brands are imbued with distorted individual and social values, the sole aim of which is to influence purchasing behavior. Also brand as a lamp is to approach focuses on employee involvement in brand relationship building. The brand performance is enhanced if instead of the brand reflecting the values of the organization, the values of organization are aligned with those of the brand with staff demonstrating their commitment to the delivery of these values. Whilst the normative nature of charitable activity means that it is not the role of charities to create needs and desires that will result in greater consumption, many have been criticized for using advertising to manipulate audiences by eliciting feelings of anger.
The metaphor of lens brand projects with clarity and precision the values upon which the organization is based. The focus then moves away from brand image that is continually changing to organizations reputations that are more constant. Projecting the non negotiable values that underpin a charity’s mission and that emanate from the organization’s culture that branding is most applicable and effective in the charity context. It is only by developing a brand identity around values that are shared by the organization’s key stakeholders that a charity can claim that its values system underpins its activities and is indeed its very reason for existing. As lens, branding provides a tool whereby charities can benefit from differentiation while also developing their identity as values-led organizations. Having identified its core values, a charity must either seek out supporters and donors whose values reflect its own or aim to create a vision that is so powerful that it inspires people to share both its vision and values.
C. Behind the Brand: is business socially responsible?
(Rebecca Collings)
Another preference to the shifting balance of power between producers and consumers is to describe the rise of CSR as the move from a shareholder to a stakeholder economy. Behind the rise of CSR is a growing body of evidence to suggest that consumer demand for sustainable goods and services is on the increase. If companies really do want to be CSR compliant, how can their business process inform the development of ethical products and services that have a viable level of demand? The response of business is further complicated by consumers’ apparently bipolar attitude to socially and environmentally sound products and services.
A responsible organization does the right thing in the eyes of all of its stakeholders. To know each of its stakeholder groups regards as the right thing involves a dialogue with each of these groups and requires modifying the organization’s behavior accordingly. To track that change in behavior, sector benchmarks and key performance indicators must be established and the organization’s progress towards them continuously measure.
Form table 3, the conclusion can get is CSR initiatives work much better when they are linked to an organization’s core business and the way in which it impacts on stakeholders. Cheque book charity does not create the dividend growth of a response to stakeholder issues that leverages a business market or operational opportunities. Mapping a business’ operational activity to the sustainability agenda at the heart of CSR produces many interesting possibilities. One high strees mortgage lender was promoting CSR activity based on time off for staff to work in the community. Worthwhile, but does not leverage the company’s core business or its ability to influence consumer choices.
The strengths and opportunities offered by a CSR framework are exactly what it takes to sustain and expand a business, but only once the weakness and threats have been identified in order to manage risk and cost.
As consumer glamour for more ethically and socially responsible products and services has increased, so CSR programs in the corporate sector have grown. CSR programs should initially focus on weakness and threats, inefficiencies and risks. After all, if CSR programs do not offer business benefits or at least counter potential risks, they are never likely to get off the ground.
CONCLUSION
The benefit of learning marketing for me at this moment is how strategy in branding which is only a simple word can give big impact in human behavior. More important, strategy marketing in branding can use in social activities like charities organization that helping human being and all living kinds in this world. Recently, new strategy in marketing involves how companies can get consumers by sharing the benefit to the social activities. The misunderstanding in using branding in companies and even charities organization can lead them fail to get their missions. For me, branding is a genius thing in the world, to learning branding not only need experiences but also creativity how to see market, consumers perceptions and companies visions with all the staff.
Some important points about branding are :
1. Adopt a brand-led approach that emphasizes elements associated with intellectual capital.
2. The key question of how organizations can recognize, develop and use brands as part of their situational intelligence portfolio are enhance creative decision making and increase significant innovation and value creation.
3. The ideas contained within the brand should be credible to employees and reflect current organizational reality, while also containing elements that stretch the organization towards what it desires to become.
4. An understanding of the brand ensures clarity of image and enhances customer experience, increases intrinsic motivation for employees, organizational knowledge and stakeholder engagement, all of which help promote trust and facilitate creative behavior.
5. The easiest way for consumer to know if a brand’s value reflects their own values is via a brand personality. The brand is imbued with human values and characteristics which of consumer identify e.g. genuine, energetic, rugged etc. The brand personality construct fulfils a range of different symbolic functions for consumers that relate to the need for social approval or personal expression.
6. The metaphor of mirror is used to demonstrate how the values with which consumers identify or to which they aspire are mirrored back to them via the brand image. The metaphor of brand as lamp is used to illustrate how a brand’s own unique values are shone like a light externally and internally in an attempt to influence the values of its target audience and those of the host organizations. The metaphor of lens brand projects with clarity and precision the values upon which the organization is based.
7. Having identified its core values, a charity must either seek out supporters and donors whose values reflect its own or aim to create a vision that is so powerful that it inspires people to share both its vision and values.
8. To track that change in behavior, sector benchmarks and key performance indicators must be established and the organization’s progress towards them continuously measure.
9. As consumer glamour for more ethically and socially responsible products and services has increased, so CSR programs in the corporate sector have grown. CSR programs should initially focus on weakness and threats, inefficiencies and risks
Leadership, Understanding Machiavelli
A. Is it Better to be Loved of Feared?
(Scott Snook)
At Harvard Business School, Professor Scott Snook uses this classic quote to help students become more effective leaders. Using two of the most successful college basketball coaches in history—coaches with as divergent leadership practices as can be imagined. Asks students to confront their basic assumptions about human nature, motivation, and preferred styles of leading.
Bobby Knight, also known as "The General," is the head coach at Texas Tech University. He's a fiery, in-your-face taskmaster who leads through discipline and intimidation, which some critics say goes too far. Mike Krzyzewski, also known as Coach K, leads the men's basketball program at Duke University. Instead of fear, Krzyzewski relies heavily on positive reinforcement, open and warm communication, and caring support.
The stage is set for student to explore their own fundamental assumptions about leadership and human nature. Are people basically lazy or energetic? What motivates people to do their best? What is the most effective style of leading? Is it better to be loved or feared? Knight or Krzyzewski, whom would you hire?
There two types of human. First, If you believe people are fundamentally good—good meaning that they're trying to do their best, self-motivated, want to perform—then your fundamental leadership style will be one way. It will be empowering them, getting obstacles out of the way, and setting high goals while maintaining standards. Second, If you believe people are fundamentally bad—if you believe people are constantly looking to get over and get by and won't do anything unless they're watched—then you'll tend to lead with a very transactional management style that's built primarily around rewards and punishments. Tight supervision, a controlling type of leadership style characterized by a great deal of social distance between leaders and led.
In a company, some employees work better when structure is imposed on them, Snook observes. "It's the understanding that 'I work better, I will perform better, I'll make more money if somebody gives me a pay-per-perform' " work environment, says Snook, "The ultimate lesson is, what kind of person am I, and then what are the implications of my underlying assumptions for how I lead, and the kind of organizations and the type of situations I'm more effective in? It's not like one's better, one's worse."
Also "There are skills in the workplace that you only get through repetition, drill, habit, and discipline. A lot of times we're not real good at those," Snook continues. "So having an external force, whether it's a leader or a compensation system, forces you to do something you wouldn't ordinarily do, the mundane things that make you a better person, a better leader, or a better basketball player.
There are three ovals. First oval is who you are. Middle oval is how you lead. The third oval is the situation. Leaders who can recognize and call upon all three areas can expand their range of management styles to meet the needs of the situation, Snook says. "That could be an individual subordinate who needs more structure, or less structure, or more love, more challenge, or more support. Increasing your ability to accurately read relevant situational demands, understand more clearly your own assumptions about human nature, and then appropriately adapt 'how you lead,' your style, is a life-long process."
For hiring managers, one lesson is to understand the dominant type of motivation supported by your corporate culture and hire people who thrive in those situation,
There is another interesting intersection of the dramatis personae in this tale of two coaches. In the late 1960s, Coach Knight was the basketball coach at the U.S. Military Academy at West Point, where he recruited a young player named Mike Krzyzewski. "Coach K was a young, scrappy kid. He wasn't the best athlete on the team, but he had a lot of leadership potential," Snook says. After Krzyzewski left the Army, he joined Knight as a graduate assistant at Indiana, and the older coach became his mentor."They've been great friends, how could these two people who are so different in their approach to the same game be in each other's corner the whole time?"
B. Niccolo Machiavelli and The Twentieth Century Administrator
(Rihard P Calhoon)
Machiavelli would applaud the widespread application of leadership in today’s organizations and the sophisticated refinements added a consequence of changing culture and increased knowledge. His insightful observations have continued to living for five hundred years is a testimonial to two facts: 1. Tactics that are sound, based on a realistic knowledge of behavior and 2. Ploys that are natural courses of action, undertaken by leader of any period to acquire power, resist aggression and control subordinates. The full extent and ubiquity of Machiavelli’s concepts relevant to present day organizational administrators have largely escaped notice. Emphasis on good practices and principles of management on the one hand have tended obscure the action of leaders that are unsavory but effective. On the other hand, the prevailing connotation of Machiavellian as a conniving, manipulative, cold-blocked means for arriving at selfish ends has completely overshadowed the need for and validity of his concepts. Journals, articles and books on management area are in increasing number, referring strategies used in leadership to pressure tactics and to other aspects of Machiavellianism as a matter of fact.
While in exile, he completed his most famous and infamous book, The Prince. Machiavelli called his book The Prince and not something like The Art of Government because he saw success and failure for states as stemming directly from the qualities of the leader.
The reasons for the continuing vitality of all these contributions and especially of his insights into leadership can be seen more clearly in the following:
1. His scientific point of view.
2. The laboratory in which he made his analyses was unique in history.
3. The period of exile provided time for reflection, for building on his considerable experience and knowledge.
4. Machiavelli’s observational method of studying leadership enabled him to cover a range of leadership actions of amazing breadth.
5. Historical analogy the principal method used by Machiavelli to prove his concepts of leadership is a valuable tool for analysis when properly used.
What concepts had written by Machiavelli in past similar with what happen at present. A corporation is not something different from a state with some interesting similarities; it is a state with few unimportant differences. The point is the corporations and states both have leaders and although culture, society, circumstances and organizational structure modify behavior, interactions and tactics have marked similarities within the leadership task regardless of the specific setting, but there is little alteration in the basics of human behavior despite social culture shifts.
The problems of motivating people existed in Machiavelli’s era and they are present, today’s employees however are much more sophisticated than was the populace in Machiavelli’s time education. Both the tasks and the interaction of people within organizations at various levels presented much the same dilemmas. The difference between administrative behavior in Machiavelli’s time and today is largely one of degree in rules of the game. But feelings needs for power and actions to control the behavior of others follow remarkably similar paths, as detailed examination of Machiavelli’s writings relative to current leadership actions will reveal.
A number of forces are responsible for Machiavellian actions on the part of leaders today:
1. Ambition – consequent impatience
2. Organizational Constraints – on actions or incentives
3. The Failure of Less Directive Methods – setting examples or giving cues
4. Operational – feasibility as observed and as a consequence of trial and error.
5. Ignorance – aggressiveness, etc; the only ways to known to obtain results.
6. Personality of the Individual
For some examples of the many more prevalent Machiavellianism that are justified or necessary for the good of the organization or for protecting oneself in the face of resistive, low motivated or unprincipled personnel using deviousness when power is limited and some action is required, inducing a non delegating superior to expand one’s duties, activating the man who is secure in his job, who knows that he is and who will not do what he should, counteracting the moves of someone who is out to get one’s job, to make one look bad or to make himself look good in comparison with one. At this point there are some thoughts about Machiavellianism today to provide balance. Awareness aggressive sort of leadership can be helpful if the net result is increased understanding of administrative behavior without provoking an inordinate amount of paranoia.
CONCLUSION
One interesting point when learn about leadership in Organization Management is about leadership. A leader of an organization is like a composer who will make or bring the organization to achieve the organization’s vision and mission. Until now, one of the topic that never stopping is debating about Machiavelli’s leadership.
Even Professor Snook at Harvard Business School uses Machiavelli’s leadership theory to understanding about human nature, motivation and preferred styles of leading.
After learning the journal about Niccolo Machiavelli, it’s describe about the brilliant things about how Machiavelli observed something real in reality about human styles of leadership. The point that Machiavelli describes is the leader dilemmas when face two different things which are organization vision with human nature, which one will be chosen.
Prof Snook implicitly said, when a leader knows about human nature, sometimes the leader can use something hard to push the staffs. As example, in modern world, Machiavelli’s theory is using in stick and carrot theory.
A leader must understand his/her own, the situation and the people who is lead, that means the type of leadership must adapt in the situation without sacrifice organization’s purposes.
The good thing learning about Machiavelli is he described all the bad things about human nature, ignored about kindness, religiousness and ethics. It is not about the styles of Machiavelli leadership. He described, in reality there a lot of people trying get his/her own goal by hook or by crook.
Understanding the Machiavelli’s theory will give a leader how to manage staff that has his/her own goal that different with organization’s purposes. That theory also described how to change bad habits in human nature as stated about ambition, organizational constraints, operationally, ignorance, personality of the individual.
(Scott Snook)
At Harvard Business School, Professor Scott Snook uses this classic quote to help students become more effective leaders. Using two of the most successful college basketball coaches in history—coaches with as divergent leadership practices as can be imagined. Asks students to confront their basic assumptions about human nature, motivation, and preferred styles of leading.
Bobby Knight, also known as "The General," is the head coach at Texas Tech University. He's a fiery, in-your-face taskmaster who leads through discipline and intimidation, which some critics say goes too far. Mike Krzyzewski, also known as Coach K, leads the men's basketball program at Duke University. Instead of fear, Krzyzewski relies heavily on positive reinforcement, open and warm communication, and caring support.
The stage is set for student to explore their own fundamental assumptions about leadership and human nature. Are people basically lazy or energetic? What motivates people to do their best? What is the most effective style of leading? Is it better to be loved or feared? Knight or Krzyzewski, whom would you hire?
There two types of human. First, If you believe people are fundamentally good—good meaning that they're trying to do their best, self-motivated, want to perform—then your fundamental leadership style will be one way. It will be empowering them, getting obstacles out of the way, and setting high goals while maintaining standards. Second, If you believe people are fundamentally bad—if you believe people are constantly looking to get over and get by and won't do anything unless they're watched—then you'll tend to lead with a very transactional management style that's built primarily around rewards and punishments. Tight supervision, a controlling type of leadership style characterized by a great deal of social distance between leaders and led.
In a company, some employees work better when structure is imposed on them, Snook observes. "It's the understanding that 'I work better, I will perform better, I'll make more money if somebody gives me a pay-per-perform' " work environment, says Snook, "The ultimate lesson is, what kind of person am I, and then what are the implications of my underlying assumptions for how I lead, and the kind of organizations and the type of situations I'm more effective in? It's not like one's better, one's worse."
Also "There are skills in the workplace that you only get through repetition, drill, habit, and discipline. A lot of times we're not real good at those," Snook continues. "So having an external force, whether it's a leader or a compensation system, forces you to do something you wouldn't ordinarily do, the mundane things that make you a better person, a better leader, or a better basketball player.
There are three ovals. First oval is who you are. Middle oval is how you lead. The third oval is the situation. Leaders who can recognize and call upon all three areas can expand their range of management styles to meet the needs of the situation, Snook says. "That could be an individual subordinate who needs more structure, or less structure, or more love, more challenge, or more support. Increasing your ability to accurately read relevant situational demands, understand more clearly your own assumptions about human nature, and then appropriately adapt 'how you lead,' your style, is a life-long process."
For hiring managers, one lesson is to understand the dominant type of motivation supported by your corporate culture and hire people who thrive in those situation,
There is another interesting intersection of the dramatis personae in this tale of two coaches. In the late 1960s, Coach Knight was the basketball coach at the U.S. Military Academy at West Point, where he recruited a young player named Mike Krzyzewski. "Coach K was a young, scrappy kid. He wasn't the best athlete on the team, but he had a lot of leadership potential," Snook says. After Krzyzewski left the Army, he joined Knight as a graduate assistant at Indiana, and the older coach became his mentor."They've been great friends, how could these two people who are so different in their approach to the same game be in each other's corner the whole time?"
B. Niccolo Machiavelli and The Twentieth Century Administrator
(Rihard P Calhoon)
Machiavelli would applaud the widespread application of leadership in today’s organizations and the sophisticated refinements added a consequence of changing culture and increased knowledge. His insightful observations have continued to living for five hundred years is a testimonial to two facts: 1. Tactics that are sound, based on a realistic knowledge of behavior and 2. Ploys that are natural courses of action, undertaken by leader of any period to acquire power, resist aggression and control subordinates. The full extent and ubiquity of Machiavelli’s concepts relevant to present day organizational administrators have largely escaped notice. Emphasis on good practices and principles of management on the one hand have tended obscure the action of leaders that are unsavory but effective. On the other hand, the prevailing connotation of Machiavellian as a conniving, manipulative, cold-blocked means for arriving at selfish ends has completely overshadowed the need for and validity of his concepts. Journals, articles and books on management area are in increasing number, referring strategies used in leadership to pressure tactics and to other aspects of Machiavellianism as a matter of fact.
While in exile, he completed his most famous and infamous book, The Prince. Machiavelli called his book The Prince and not something like The Art of Government because he saw success and failure for states as stemming directly from the qualities of the leader.
The reasons for the continuing vitality of all these contributions and especially of his insights into leadership can be seen more clearly in the following:
1. His scientific point of view.
2. The laboratory in which he made his analyses was unique in history.
3. The period of exile provided time for reflection, for building on his considerable experience and knowledge.
4. Machiavelli’s observational method of studying leadership enabled him to cover a range of leadership actions of amazing breadth.
5. Historical analogy the principal method used by Machiavelli to prove his concepts of leadership is a valuable tool for analysis when properly used.
What concepts had written by Machiavelli in past similar with what happen at present. A corporation is not something different from a state with some interesting similarities; it is a state with few unimportant differences. The point is the corporations and states both have leaders and although culture, society, circumstances and organizational structure modify behavior, interactions and tactics have marked similarities within the leadership task regardless of the specific setting, but there is little alteration in the basics of human behavior despite social culture shifts.
The problems of motivating people existed in Machiavelli’s era and they are present, today’s employees however are much more sophisticated than was the populace in Machiavelli’s time education. Both the tasks and the interaction of people within organizations at various levels presented much the same dilemmas. The difference between administrative behavior in Machiavelli’s time and today is largely one of degree in rules of the game. But feelings needs for power and actions to control the behavior of others follow remarkably similar paths, as detailed examination of Machiavelli’s writings relative to current leadership actions will reveal.
A number of forces are responsible for Machiavellian actions on the part of leaders today:
1. Ambition – consequent impatience
2. Organizational Constraints – on actions or incentives
3. The Failure of Less Directive Methods – setting examples or giving cues
4. Operational – feasibility as observed and as a consequence of trial and error.
5. Ignorance – aggressiveness, etc; the only ways to known to obtain results.
6. Personality of the Individual
For some examples of the many more prevalent Machiavellianism that are justified or necessary for the good of the organization or for protecting oneself in the face of resistive, low motivated or unprincipled personnel using deviousness when power is limited and some action is required, inducing a non delegating superior to expand one’s duties, activating the man who is secure in his job, who knows that he is and who will not do what he should, counteracting the moves of someone who is out to get one’s job, to make one look bad or to make himself look good in comparison with one. At this point there are some thoughts about Machiavellianism today to provide balance. Awareness aggressive sort of leadership can be helpful if the net result is increased understanding of administrative behavior without provoking an inordinate amount of paranoia.
CONCLUSION
One interesting point when learn about leadership in Organization Management is about leadership. A leader of an organization is like a composer who will make or bring the organization to achieve the organization’s vision and mission. Until now, one of the topic that never stopping is debating about Machiavelli’s leadership.
Even Professor Snook at Harvard Business School uses Machiavelli’s leadership theory to understanding about human nature, motivation and preferred styles of leading.
After learning the journal about Niccolo Machiavelli, it’s describe about the brilliant things about how Machiavelli observed something real in reality about human styles of leadership. The point that Machiavelli describes is the leader dilemmas when face two different things which are organization vision with human nature, which one will be chosen.
Prof Snook implicitly said, when a leader knows about human nature, sometimes the leader can use something hard to push the staffs. As example, in modern world, Machiavelli’s theory is using in stick and carrot theory.
A leader must understand his/her own, the situation and the people who is lead, that means the type of leadership must adapt in the situation without sacrifice organization’s purposes.
The good thing learning about Machiavelli is he described all the bad things about human nature, ignored about kindness, religiousness and ethics. It is not about the styles of Machiavelli leadership. He described, in reality there a lot of people trying get his/her own goal by hook or by crook.
Understanding the Machiavelli’s theory will give a leader how to manage staff that has his/her own goal that different with organization’s purposes. That theory also described how to change bad habits in human nature as stated about ambition, organizational constraints, operationally, ignorance, personality of the individual.
Sunday, July 8, 2007
LAPORAN PENILAIAN USAHA
(Kerangka Acuan)
A. Latar Belakang
Pelaporan adalah bagian dari proses penilaian karena dalam laporan dijelaskan semua hal yang berkaitan dengan penugasan dan hasil yang diperoleh. Dan laporan ini bisa menjadi faktor penting dalam mengambil keputusan bagi pihak yang memberi penugasan ataupun pihak lainnya yang terkait.
Penyusunan laporan adalah proses terakhir dari seluruh proses penilaian. Dan umumnya proses pembuatan pelaporan akan membutuhkan waktu yang sama dengan proses penugasan dilapangan dikarenakan banyaknya pertimbangan yang harus diputuskan sebelum laporan diterbitkan.
Sampai dengan saat ini belum ada pelaporan yang bisa diajukan sebagai kerangka dasar dalam menentukan format laporan penilaian usaha. Oleh karena itu saat ini Direktorat Jenderal Kekayaan Negara berusaha membentuk format dari pelaporan penilaian usaha yang dapat menjadi format baku dalam penilaian usaha di Indonesia.
Arti Kosa Kata Laporan/Report dari Kamus Bahasa Inggris
[report (plural reports)
1. A piece of information describing, or an account of certain events given or presented to someone.
A report by the telecommunications ministry showed that the phone network has a severe capacity problem.
2. (ballistics) The loud echo sound from a gun.
o 1883: Robert Louis Stevenson, Treasure Island
...a pistol-shot, flash and report, came from the hedge-side.
to report (third-person singular simple present reports, present participle reporting, simple past reported, past participle reported)
(intransitive) (news) To relate details of an event or incident.
This was our correspondent reporting from Baghdad, Iraq.
(intransitive) (military) To show up or appear at an appointed time; to present oneself.
(transitive): To notify of.
The nuclear plant reported the incident to the authorities.
Riots have been reported from a remote province of the country.
To be accountable.
The financial director reports to the CEO
B. Laporan Penilaian
Laporan penilaian (valuation report) adalah sebuah bentuk pelaporan baik secara lisan maupun tertulis dari nilai dan atau penilaian yang telah dilaksanakan oleh penilai kepada pihak yang memberi tugas (klien). Pelaporan ini biasanya dilakukan oleh penilai maupun kantor penilai kepada pemberi tugas sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas yang diberikannya.
Tujuan dari laporan penilaian ini adalah untuk menyampaikan data, logika, asumsi yang melandasi dan analisa yang mendukung pernyataan nilai kepada pihak yang memberi tugas penilaian. Laporan Penilaian yang dibuat oleh seorang penilai usaha (business appraiser) harus dilengkapi dengan pernyataan (sertifikasi) penilai dan batasan/istilah yang dicakup dalam penilaian yang meliputi cakupan penilaian, kondisi yang membatasi, definisi nilai, tujuan penilaian dan tanggal penilaian. Dan agar pembaca atau pemberi tugas (klien) memahami masalah penilaian dari obyek yang dinilai melalui alasan dan diskriptif data yang relevan untuk mendukung suatu opini/kesimpulan nilai.
Laporan penilaian juga dapat berfungsi antara lain sebagai berikut:
a. Menyampaikan kesimpulan Penilai tentang Nilai kepada klien dan atau kepada orang lain yang mungkin berkepentingan dengan hasil penilaian.
b. Sebagai catatan lengkap dan terperinci dari nilai suatu usaha dipandang dari berbagai sudut kegunaan dan kepentingan sesuai dengan keadaan dan situasi yang berlaku.
c. Melindungi usaha dari berbagai kemungkinan yang dapat merugikan pemilik (owner) dari kejadian yang tidak disangka-sangka.
d. Sebagai bahan pengambilan keputusan bagi manajemen dalam rangka pengembangan usaha dan bisnisnya serta meningkatkan kredibilitas dari lembaga-lembaga keuangan maupun masyarakat.
Bentuk dan format laporan penilaian memang seringkali bervariasi. Format laporan penilaian untuk perusahaan penilaian swasta dan untuk instansi pemerintah biasanya berbeda meskipun kandungan isinya sama. Namun secara umum, memberi standar bahwa laporan penilaian setidaknya harus mencakup beberapa hal sebagai berikut :
Identifikasi dan diskripsi mengenai objek yang dinilai. Kegiatan pengidentifikasian ini meliputi pengidentifikasian fisik terhadap lokasi perusahaan, kegiatan, legalitas dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai suatu obyek.
Mengidentifikasi opini yang menjadi tujuan penilaian dan sekaligus kegunaan penilaian itu sendiri. Jenis nilai, tujuan penilaian dan kegunaan penilaian ini sangat terkait erat dan merupakan hal yang sangat penting untuk ditentukan dan diketahui sebelum proses penilaian tersebut dilaksanakan.
Menetapkan tanggal penilaian (date of valuation), tanggal inspeksi lapangan dan tanggal pelaporan. Karena nilai properti dari waktu ke waktu mengalami perubahan seiring dengan dinamika di lapangan, maka tidak ada satu nilai tunggal yang dapat digunakan untuk keperluan sepanjang waktu tanpa ditetapkan tanggal penilaiannya. Tanggal penilaian tersebut menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan adalah nilai tertentu pada suatu tanggal penilaian tertentu pula, dan hal ini penting untuk membatasi tanggung jawab penilai.
Menentukan kegunaan tertinggi dan terbaik (highest & best use) dari saham yang dinilai (jika dianggap perlu). Dalam tujuan penilaian tertentu analisis kegunaan tertinggi dan terbaik ini seringkali dianggap perlu, terutama pada saat melakukan penilaian untuk menentukan nilai potensi suatu perusahaan, studi kelayakan, dan sebagainya. Secara garis besar analisis kegunaan tertinggi dan terbaik ini meliputi suatu kajian untuk kelayakan legalitas dan kelayakan finansial untuk menghasilkan keuntungan yang paling maksimal.
Menerangkan prosedur penilaian yang digunakan. Karena tujuan dari pembuatan laporan adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca/klien yang pada umumnya bukan seorang penilai, maka dalam pelaporan penilaian perlu diuraikan mengenai prosedur penilaian yang digunakan. Jadi setiap pendekatan penilaian yang dipakai secara garis besar harus diuraikan sehingga pembaca mempunyai gambaran mengenai proses bagaimana kesimpulan nilai tersebut dibuat.
Menyediakan/menampilkan data pendukung dan alasan-alasan yang mendukung analisis, opini dan kesimpulan nilai dalam laporan. Ketersediaan data pendukung merupakan hal pokok yang perlu ada untuk mendukung analisis dalam menghasilkan suatu kesimpulan nilai.
Hampir semua pendekatan penilaian (valuation approachs) pasti memerlukan dan mendasarkan pada informasi dari properti pembanding dan juga data-data pendukung lain, baik data instansional maupun non instansional yang dapat memperkuat opini dan pengambilan kesimpulan nilai. Semua data pembanding dan data pendukung ini harus dimuat di dalam laporan penilaian sebagai bukti yang memperkuat kesimpulan nilai.
Menerangkan semua asumsi dan batasan (limiting condition) yang mempengaruhi analisis, opini dan kesimpulan nilai. Penilai dalam memberikan opini nilainya tidaklah mutlak benar dan bisa berlaku sepanjang masa serta dapat digunakan untuk berbagai jenis kepentingan. Untuk membatasi tanggung jawab penilai, maka perlu dibauat bagian khusus yang menerangkan sebatas mana penilai bertanggung jawab atas opini nilai yang diberikannya. Dalam asumsi dan batasan ini penilai menyatakan batas tanggung jawabnya, sehingga bila ada suatu kasus tertentu yang melibatkan suatu perkara hukum di pengadilan, maka tanggungjawab penilai hanyalah sebatas apa yang diuraikan dalam asumsi dan batasan (limiting condition) yang dinyatakan dalam laporan penilaian.
Laporan penilaian dapat disajikan dalam bentuk:
1. Laporan Lisan;
Laporan Lisan (Oral Report) adalah laporan lisan dari penilai. Laporan ini diperlukan jika keadaannya mendesak atau klien tidak memerlukan pelaporan secara tertulis. Namun bentuk laporan penilaian lisan dalam praktek saat ini jarang sekali dilakukan.
Laporan penilaian walau disajikan secara lisan, namun tetap harus disajikan secara akurat. Adapun hal yang paling minimal harus dilaporkan adalah:
• Pendahuluan
Dalam pendahuluan disajikan mengenai identifikasi klien, obyek yang dinilai, maksud dan tujuan penilaian, definisi standar nilai, tanggal efektif penilaian.
• Asumsi dan Syarat Pembatas
Dalam asumsi dan syarat pembatas diuraikan mengenai asumsi yang dipakai dalam melakukan analisa penilaian dan syarat apa saja yang membatasi.
• Pernyataan Independensi
Dalam pernyataan ini diuraikan bahwa Penilai dalam melakukan penilaian tidak memiliki kepentingan apapun atas obyek penilaian dan pihak-pihak yang terlibat didalamnya.
• Kesimpulan Penilaian
Dalam kesimpulan penilaian dsajikan berapa nilai yang dihasilkan pada suatu tanggal tertentu berdasarkan penugasan yang diberikan.
2. Laporan tertulis;
• Laporan dalam bentuk surat;
• Laporan lengkap tertulis.
2.1 Laporan dalam bentuk Surat (Pernyataan Penilai)
Laporan penilaian dalam bentuk surat (Letter Report) adalah laporan penilaian yang berbentuk surat dan berisikan hasil investigasi dan analisis yang disimpulkan dalam sebuah surat. Estimasi nilai disampaikan melalui suatu surat yang disahkan dengan tanda tangan penilai. Surat ini biasanya hanya berisi opini nilai dari properti, tanpa disertai dukungan data, informasi dan analisis.
Laporan semacam ini biasanya disiapkan atas permintaan pelanggan (klien), namun setidaknya laporan berbentuk surat ini berisikan tentang:
1. Kontrak Kerja
2. Maksud dan tujuan dilakukan penilaian
Pernyataan mengenai tujuan penilaian. Tujuan penilaian dalam hal ini harus scara jelas dinyatakan, karena terkait dengan jenis nilai yang dihasilkan. Seperti contoh jika tujuan penilaian adalah untuk jual-beli, maka jenis nilai yang dihasilkan adalah nilai pasar wajar (fair market value).
3. Ruang lingkup penilaian
4. Sumber data
Sumber data yang digunakan oleh penilai harus diungkapkan secara garis besar. Nama-nama dan jenis data yang digunakan. Tidak perlu seluruh lampiran data diungkapkan.
5. Jangka waktu penilaian
6. Diskripsi mengenai bentuk analisis yang dipakai. Meskipun tidak secara detail diuraikan, deskripsi mengenai bentuk analisis yang dipakai adalah perlu dikemukakan, setidaknya dikemukakan mengenai pendekatan penilaian yang digunakan untuk menganalisis nilai.
7. Tanggal penilaian, tanggal pelaporan dan semua batasan-batasan masalah (limiting condition).
Tanggal penilaian dalam hal ini adalah terkait dengan tanggal dimana nilai tersebut ditetapkan, sedangkan tanggal pelaporan adalah lebih menunjukkan pada tanggal aktual dibuatnya laporan tersebut. Mengenai batasan masalah, meskipun singkat juga perlu dinyatakan dalam laporan penilaian berbentuk surat ini karena hal ini penting untuk menunjukkan tanggung jawab dan wewenang penilai atas opini nilai yang dihasilkannya.
8. Sertifikasi nilai/pernyataan tentang kesimpulan nilai. Sertifikasi nilai ini merupakan bagian terpenting dari surat. Dalam hal ini penilai perlu menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis yang seksama dengan memperhatikan semua data dan berdasarkan pada pengalaman, maka penilai memberikan opini besarnya nilai properti yang dianalisis.
9. Kesimpulan nilai;
Laporan penilaian dalam bentuk surat, kerapkali digunakan untuk melaporkan hasil penilaian yang bersifat harus diungkapkan dengan segera dalam kondisi tertentu. Setelah laporan dalam bentuk surat disampaikan, dalam jangka waktu singkat laporan tertulis lengkap harus disampaikan.
2.2 Laporan Tertulis
Dalam laporan lengkap tertulis, disajikan secara terperinci hal-hal berikut :
a. Surat Pernyataan Penilai (Sertifikasi)
Surat Pernyataan Penilai adalah surat yang ditujukan kepada semua pihak terkait mengenai hal-hal dasar yang berhubungan dengan penugasan yang dilakukan oleh Tim Penilai. Dengan surat ini diharapkan semua pihak dapat mengetahui beberapa hal prinsip yang menjadi landasan hukum bagi Tim Penilai dalam melakukan penugasan dan saat telah berakhirnya penugasan.
Surat Pernyataan Penilai berfungsi sebagai :
Dasar hukum dilakukan penilaian;
Identifikasi Tim Penilai;
Ruang lingkup penilaian;
Asumsi dan syarat-syarat pembatasan penugasan penilaian;
• Diasumsikan bahwa penilai tidak memiliki kepentingan apapun terhadap obyek penilaian;
• Data yang digunakan : Penilai bergantung pada data dan akses pada sumber data yang tersedia;
• Validitas penilaian : Hasil penilaian hanya berlaku pada tanggal penilaian dan untuk tujuan penilaian.
Kesimpulan Nilai
Tanggal dilakukan penilaian;
Tanda tangan.
b. Daftar ISI
1. Surat Pengantar
Sering juga disebut sebagai Letter of Transmital merupakan surat yang dibuat oleh penilai kepada pelanggan (klien) yang menyatakan bahwa penilai telah melakukan penilaian atas obyek yang ditunjuk pada tanggal tertentu dan untuk tujuan tertentu serta pernyataan/opini nilai atas obyek yang dinilai. Surat pengantar ini berisikan antara lain :
tanggal surat dan pihak yang memberi tugas.
Dalam surat pengantar ini harus disebutkan dasar dari pemberian tugas untuk melaksanakan penilaian, yaitu dari pihak mana dan bersasarkan surat nomor dan tanggal berapa.
pernyataan identifikasi kepentingan-kepentingan yang terdapat dalam properti yang dinilai, yaitu terkait dengan jenis hak dan batasan-batasan apa saja yang dinyatakan ke atas hak yang dimiliki.
pernyataan mengenai telah dilaksanakannya penugasan penilaian. Hal ini penting sebagai pernyataan tanggungjawab penilai terhadap tugas yang diberikan klien kepadanya.
tanggal penilaian efektif, yaitu tanggal di mana nilai tersebut ditetapkan dan biasanya tanggal penilaian disesuaikan dengan tujuan penilaiannya.
estimasi nilai, yaitu pernyataan mengenai besarnya nilai usaha yang diestimasi.
batasan masalah, menyatakan batasan wewenang dan tanggungjawab yang ditanggung penilai.
tanda tangan penilai.
2. Surat Pernyataan Penilai (Sertifikasi)
Yaitu sertifikasi nilai yang disertai dengan pernyataan nilai akhir, tanda tangan penilai, tanggal dan cap/stempel dengan uraian/pernyataan
3. Bab I : Ringkasan Eksekutif
Rangkuman ini diperlukan bila laporan terlalu panjang dan terdiri dari beberapa obyek. Mengawali laporan penilaian, penilai juga harus menyatakan siapa pemberi tugas, untuk siapa laporan tersebut dibuat dan menyatakan bahwa properti telah dilakukan pemeriksaan/inspeksi. Penilai dalam hal ini juga dapat menegaskan batasan-batasan penggunaan laporan penilaian tersebut dan tanggungjawab penilai hanya terbatas pada tujuan sebagaimana dinyatakan dalam laporan, kecuali klien telah meminta ijin terlebih dahulu kepada penilai.
Ringkasan eksekutif adalah uraian singkat yang meliputi :
• Latar belakang berdirinya perusahaan;
• Latar belakang diperlukannya penilai untuk tujuan tertentu dari perusahaan;
• Dasar dari Penilai dalam melakukan penilaian. Dasar yang digunakan dalam melakukan penilaian khususnya di Indonesia adalah Standar Penilaian Indonesia Tahun 2002, KEPI dan standar internasional lainnya yang relevan terhadap penilaian yang dilakukan;
• Independensi dari Penilai;
• Definisi dan istilah yang digunakan oleh Penilai.
Umumnya definisi dan istilah yang digunakan adalah yang berlaku umum dalam profesi penilai.
4. Bab II : Syarat-syarat dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas ini dinyatakan dalam laporan adalah bertujuan untuk melindungi penilai terhadap kemungkinan penyalahgunaan hasil penilaian yang telah dilakukan. Asumsi dan kondisi pembatas yang sering dimasukkan dalam laporan penilaian antara lain adalah asumsi “pasar wajar”opini yang berbeda, dasar yang dipakai dalam menentukan nilai saham, tanggal dan tujuan yang spesifik dilakukannya penilain serta batas tanggungjawab penilai.
Syarat-syarat dan kondisi pembatas adalah ruang lingkup yang digunakan oleh penilai dalam melaksanakan kegiatan. Syarat-syarat dan kondisi pembatas sangat diperlukan agar tujuan dan maksud penugasan dapat terlaksana dengan baik. Dan juga dapat mengurangi bias penilai dalam melaksanakan kegiatan.
Syarat-syarat dasar yang dibutuhkan seorang penilai adalah :
1. Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh KAP selama 3 tahun;
2. Laporan Internal yang dikeluarkan oleh internal audit yang telah disahkan oleh manajemen;
3. Data-data primer dan sekunder perusahaan;
4. Data-data lain yang telah dipublikasikan dan diyakini keakuratannya;
5. Bila data yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya maka hal tersebut diluar tanggung jawab penilai;
6. Jika ada beberapa jenis mata uang yang digunakan maka penilaian harus menggunakan mata uang rupiah (idr) dengan melakukan konversi atas mata uang asing pada tanggal tertentu oleh lembaga pemeringkat independen;
7. Sejarah/riwayat pertumbuhan perusahaan;
8. Produk/jasa yang dihasilkan;
9. Pasar dan pemasaran;
10. Manajemen;
11. Aktiva baik yang berwujud maupun tidak berwujud;
12. Tinjauan umum tentang makro ekonomi, industri dan perusahaan yang bersangkutan;
13. Transaksi kepemilikan usaha dari obyek penilaian yang pernah terjadi sebelumnya.
14. Sensitivitas terhadap faktor pengaruh musim atau siklus usaha;
15. Persaingan;
16. Sumber data yang digunakan.
Kondisi pembatas umumnya terbagi menjadi 2 kategori :
Yang diakibatkan oleh pihak manajemen
Pembatasan yang dilakukan oleh pihak manajemen bisa terjadi karena adanya penafsiran yang berbeda mengenai suatu hal ataupun kesengajaan dari pihak manajemen untuk tidak memberikan informasi sesuai kondisi yang sebenarnya.
Yang disebabkan oleh keadaan diluar kekuasaan kedua belah pihak.
Pembatasan akibat oleh keadaan diluar kekuasaan kedua pihak dapat lebih diterima apabila ada informasi yang detail.
Pengaruh atas ruang lingkup dapat memberikan kesimpulan hasil penilaian yang berbeda. Oleh karena itu bila pembatasan ruang lingkup penilaian harus diungkapkan dalam laporan penilai independen.
5. Bab III : Uraian mengenai Perusahaan
a. Informasi mengenai perusahaan dan legalitas perusahaan.
Pada umumnya yang patut menjadi perhatian dari penilai adalah kegiatan utama dari perusahaan, lokasi perusahaan dan ijin dari pihak terkait atas usaha yang sedang berjalan;
b. Pengurus dan pemegang saham;
Perubahan anggaran dasar mengenai pemegang saham harus diketahui oleh penilai dan komposisi pemegang saham sehingga penilai mempunyai data awal untuk menentukan diskon atau premi sesuai kepentingan penilaian.
c. Organisasi dan manajemen perusahaan;
d. Kondisi operasional perusahaan dan usaha yang sedang berjalan;
e. Analisa keuangan perusahaan;
f. Resiko usaha.
6. Bab IV : Uraian mengenai Industri
Kondisi dan Analisis Industri;
Prospek Industri;
Analisa SWOT
7. Bab V : Metodologi dan Asumsi Penilaian
Dalam bagian ini penilai menguraikan secara ringkas semua metode penilaian yang digunakan, baik secara pendekatan aktiva, pendekatan pendapatan (income approach) maupun pendekatan perbandingan data pasar (market data approach) yang seusai dengan tujuan penilaian tersebut dilakukan. Selain menguraikan mengenai metode penilaian yang digunakan adalah cukup penting juga untuk menyatakan bangaimana proses dan hasil penilaian yang dihasilkan serta rekonsiliasi nilai dari metode-metode penilaian yang dipakai.
Pendekatan dalam penilaian;
Pemilihan metodologi;
Premi Kendali dan Diskon Minoritas;
Asumsi Penilaian (kondisi as is);
Asumsi Penilaian (kondisi value enhancement).
8. Bab VI : Perhitungan Penilaian
Menjelaskan metode yang digunakan
Apabila perusahaan dalam keadaan going concern, maka harus dihitung berdasarkan kondisi value enhancement.
Diberikan penjelasan identitas pembanding atas objek penilaian.
Melakukan diskon dan premi dengan perhitungan yang jelas.
Melakukan rekonsiliasi nilai.
9. Bab VII: Kesimpulan dan Saran
• Penilai memberikan kesimpulan hasil penilaian berdasarkan saat dan waktu tertentu yang dimintakan.
• Penilai juga memberikan beberapa nilai berdasarkan saat dan waktu tertentu berdasarkan metode yang digunakan dalam menilai kondisi perusahaan.
• Jika penilai mempunyai pendapat tambahan atas asumsi yang terjadi pada saat ini yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil penilaian, maka Penilai pun harus memberikan saran.
Dari berbagai indikasi nilai yang dihasilkan dari tiap metode yang dipakai serta setelah melakukan rekonsiliasi nilai, maka selanjutnya dalam bagian ini penilai menyampaikan keputusan tentang opini nilai yang dihasilkannya. Kesimpulan nilai properti ini harus disertai tandatangan asli dari penilai dan sebaiknya antara halaman kesimpulan nilai dan tanda tangan penilai tidak terdapat pada halaman yang terpisah, yaitu untuk tujuan keamanan dan guna menghindari adanya pemalsuan.
10. Tabel dan Gambar
Dalam Laporan Hasil Penilaian diperlukan beberapa tabel yang akan dipakai oleh pengguna untuk mengetahui data yang digunakan oleh Penilai sebagai bahan melakukan analisa.
Tabel-tabel ini harus disusun dengan rapi dari sesuatu yang bersifat umum sampai dengan khusus sesuai urutan uraian dalam laporan. Pada umumnya, table yang dilampirkan adalah :
• Komposisi Pemegang Saham
• Pertumbungan industri
• Neraca
• Laba Rugi
• Laba di Tahan
• Rasio Keuangan
• Nama perusahaan pembanding
• Posisi objek terhadap industri sejenis
• Perhitungan rekonsiliasi
• Review kepatuhan terhadap industri sejenis
• Matriks SWOT
11. Lampiran
Surat Pernyataan Penilai
xxxx
1. Penilai Publik Terdaftar
Alamat
12. Tanggal
13. Judul Laporan Laporan Penilaian Saham PT xxxx
14. Ditujukan
15. Paragraf Pendahuluan
(pernyataan dasar hukum, tujuan dan data aktual)
Berdasarkan Kontrak Kerja No … tanggal … tentang … antara … dan … , kami telah melakukan penilaian atas saham PT xxx per tanggal …. atas permintaan PT xxx atau PT yyy atau dll. Data yang kami gunakan dalam melakukan penilaian adalah Lap Keu PT xxx yang telah diaudit KAP selama 3 terakhir dan Lap Internal PT xxx yang dikeluarkan oleh Komite Internal Audit dan disahkan oleh Komisaris PT xxx (untuk perusahaan terbuka) serta data-data lainnya yang terkait dalam melakukan penilaian baik yang dikeluarkan oleh PT xxx maupun yang telah dipublikasikan oleh pihak lain yang dapat dipercaya keakuratan informasi yang diberikan.
16. Paragraf Ruang Lingkup
(pernyataan batasan dan kondisi penilai)
Kami telah melakukan penilaian sesuai dengan Standar Penilai Indonesia Tahun xxx dan Kode Etik Penilai Indonesia atas saham PT xxx sebagai suatu usaha yang xxx (going concern atau pailit atau lainnya). yang merupakan perusahan xxx (terbuka atau tertutup). Kami melakukan peninjauan lapangan pada tanggal xxx s.d xxx dan mengadakan wawancara dengan manajemen dan pihak lain yang terkait dan relevan dalam melakukan penilaian untuk mendapatkan informasi yang memadai mengenai obyek penilaian. Data yang kami berupa data primer dan sekunder serta data khusus dan spesifik baik dari pihak manajemen maupun pihak lain yang telah dipublikasikan dan telah diyakini secara umum keakuratannya. Bila ternyata data-data yang kami peroleh tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya, maka hal tersebut diluar tanggung jawab kami.
17. Paragraf Metodologi dan Informasi Analisa
(pernyataan teknik penilaian atas tujuan dan)
Penilaian atas PT xxx bertujuan untuk menentukan Nilai Pasar dari saham PT xxx dengan memperhatikan semua data yang kami peroleh untuk mengambil kesimpulan mengenai nilai saham PT xxx. Pendekatan dan metodologi penilaian yang kami lakukan adalah pendekatan dan metodologi sesuai dengan asumsi awal terhadap pt xxx pada saat kondisi dan keadaan penilaian dilakukan. Kami melakukan aplikasi discount for lack of marketability sebesar xxx % atau premi of marketability sebesar xxx %
18. Paragraf Pendapat
(kesimpulan)
Berdasarkan analisa kami, kami berkesimpulan bahwa nilai pasar wajar atas saham PT xxx adalah sebagai berikut :
Tanggal Kondisi Nilai Pasar Wajar
as is
value enhancement
khusus
19. Nama Penilai
20. Tanda Tangan Penilai
(beserta nomor ijin registrasi pemerintah)
21. Tanggal Laporan Penilaian
(tanggal berakhirnya penilaian lapangan)
Bagian Laporan Penilaian
1. KOP Surat
Dalam kop surat ini dijelaskan identitas penilai beserta alamat dan dasar hukum yang memberikan informasi mengenai legalitas untuk melakukan penilaian. Pada umumya dalam dunia profesi, nama kantor tersebut akan bertanggung jawab secara hukum dan jabatan atas kualitas seorang Penilai berdasarkan standar profesi dan kode etik profesi.
2. Tanggal
Tanggal adalah menyatakan bahwa saat dan waktu tertentu,laporan penilaian telah secara sah diterbitkan oleh Penilai kepada pemberi penugasan agar memudahkan pengarsipan pada saat tertentu.
3. Judul
Dalam judul diungkapkan tujuan penilaian. Dalam banyak kasus penilaian bukan hanya ditujukan pada penilaian saham PT xxx dalam kondisi normal, kemungkinan juga ketika dalam keadaan pailit ataupun going concern PT xxx diragukan. Sehingga ketika membaca judul Laporan Penilaian, setiap pembaca sudah dapat memprediksikan keadaan yang sebenarnya terjadi.
4. Ditujukan
Penilai harus memberikan data mengenai Laporan Hasil Penilaian ditujukan kepada pihak yang berhak ataupun yang terkait. Dalam membuat kontrak kerja, ada kemungkinan penugasan diberikan oleh beberapa pihak, sehingga harus jelas bahwa Laporan Hasil Penilaian ini ditujukan kepada pihak yang mempunyai kepentingan. Dan Laporan Hasil Penilaian harus identik dan sama kepada berbagai pihak.
5. Paragraf Pendahuluan
Paragraf pendahuluan dari laporan ini ditujukan untuk tiga hal. Pertama, paragraf ini merupakan pernyataan dari Penilai bahwa penilai telah melakukan penilaian dengan adanya kontrak kerja yang sah antara pemberi penugasan dengan penilai.
Kedua, paragaraf ini menjelaskan tujuan dari penilaian tersebut dalam ruang lingkup tertentu yang diminta oleh pemberi penugasan. Ketiga adalah menjelaskan data-data yang digunakan oleh Penilai dalam melakukan penugasan baik data yang didapat dari pihak pemberi penugasan ataupun data lain yang dipublikasikan sehingga semua pihak yang mempunyai kepentingan atas Laporan Hasil Penilaian dapat mengetahui dan tidak mempunyai asumsi diluar data yang digunakan oleh Penilai.
Untuk usaha yang berbentuk badan hukum perusahaan yang telah dipasarkan di bursa efek, harus juga memberikan Laporan Audit Internal yang telah disahkan oleh Komisaris Perusahaan sebagai persyaratan dalam melakukan penilaian.
6. Paragraf Ruang Lingkup
Paragraf ini menjelaskan dua hal yaitu pernyataan faktual tentang yang dilakukan oleh Penilai, bahwa Penilai melakukan penilaian sesuai kaidah Ilmu Penilaian dengan standar-standar penilaian yang diterapkan secara umum di Indonesia beserta Kode Etik yang harus dipegang oleh Penilai. Dalam paragraf ini dijelaskan pula jangka waktu penilaian dilakukan
Kedua menjelaskan tanggung jawab dari Penilai atas data-data yang didapat oleh Penilai baik dari pihak pemberi penugasan dan data-data lain yang dipublikasikan. Penilai tidak bertanggung jawab atas kebenaran data yang telah diberikan ataupun yang dipublikasikan jika hasil penilaian tidak sesuai dengan kondisi yang nyata.
7. Paragraf Metodologi dan Informasi Analisa
Paragraf ini menjelaskan metodologi yang dilakukan oleh Penilai dalam melakukan penilaian terhadap data-data yang diperoleh. Kemudian Penilai juga memberikan informasi mengenai hasil analisa yang telah dilakukan sesuai metodologi penilaian sesuai kaidah akademis.
8. Paragraf Pendapat
Paragraf terakhir dalam laporan ini menyatakan kesimpulan Penilai berdasarkan hasil penilaian. Bagian ini sangat penting karena pada paragraf inilah seorang penilai memberikan pendapat. Hal yang harus dipahami oleh semua pihak adalah paragraf pendapat dengan tegas menyatakan sebuah pendapat, bukan pernyataan mutlak ataupun jaminan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan atas pertimbangan professional.
9. Nama Penilai
Nama Penilai harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Penilaian. Didalam sebuah kantor penilai ada beberapa penilai yang bergabung dan bekerja sama, sehingga diperlukan identitas yang jelas mengenai Penilai yang melakukan penugasan. Jika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan hasil penilaian yang harus dikonfirmasikan kepada kantor penilai, maka nama orang tersebut harus dapat memberikan keterangan mengenai hasil penilaian yang dilaksanakan.
10. Tanda Tangan
Tandan tangan Penilai berfungsi untuk memperkuat Laporan Hasil Penilaian. Dan hasil penilaian akan dinyatakan diterima secara hukum dengan adanya tanda tangan dari Penilai tersebut.
11. Tanggal Penilaian
Penilai harus mencantumkan tanggal atas pendapat nilai yang dikeluarkan, sehingga semua pihak dapat langsung mengetahui pendapat Penilai pada saat dan kondisi tertentu.
gtp 7 apr 07
A. Latar Belakang
Pelaporan adalah bagian dari proses penilaian karena dalam laporan dijelaskan semua hal yang berkaitan dengan penugasan dan hasil yang diperoleh. Dan laporan ini bisa menjadi faktor penting dalam mengambil keputusan bagi pihak yang memberi penugasan ataupun pihak lainnya yang terkait.
Penyusunan laporan adalah proses terakhir dari seluruh proses penilaian. Dan umumnya proses pembuatan pelaporan akan membutuhkan waktu yang sama dengan proses penugasan dilapangan dikarenakan banyaknya pertimbangan yang harus diputuskan sebelum laporan diterbitkan.
Sampai dengan saat ini belum ada pelaporan yang bisa diajukan sebagai kerangka dasar dalam menentukan format laporan penilaian usaha. Oleh karena itu saat ini Direktorat Jenderal Kekayaan Negara berusaha membentuk format dari pelaporan penilaian usaha yang dapat menjadi format baku dalam penilaian usaha di Indonesia.
Arti Kosa Kata Laporan/Report dari Kamus Bahasa Inggris
[report (plural reports)
1. A piece of information describing, or an account of certain events given or presented to someone.
A report by the telecommunications ministry showed that the phone network has a severe capacity problem.
2. (ballistics) The loud echo sound from a gun.
o 1883: Robert Louis Stevenson, Treasure Island
...a pistol-shot, flash and report, came from the hedge-side.
to report (third-person singular simple present reports, present participle reporting, simple past reported, past participle reported)
(intransitive) (news) To relate details of an event or incident.
This was our correspondent reporting from Baghdad, Iraq.
(intransitive) (military) To show up or appear at an appointed time; to present oneself.
(transitive): To notify of.
The nuclear plant reported the incident to the authorities.
Riots have been reported from a remote province of the country.
To be accountable.
The financial director reports to the CEO
B. Laporan Penilaian
Laporan penilaian (valuation report) adalah sebuah bentuk pelaporan baik secara lisan maupun tertulis dari nilai dan atau penilaian yang telah dilaksanakan oleh penilai kepada pihak yang memberi tugas (klien). Pelaporan ini biasanya dilakukan oleh penilai maupun kantor penilai kepada pemberi tugas sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas yang diberikannya.
Tujuan dari laporan penilaian ini adalah untuk menyampaikan data, logika, asumsi yang melandasi dan analisa yang mendukung pernyataan nilai kepada pihak yang memberi tugas penilaian. Laporan Penilaian yang dibuat oleh seorang penilai usaha (business appraiser) harus dilengkapi dengan pernyataan (sertifikasi) penilai dan batasan/istilah yang dicakup dalam penilaian yang meliputi cakupan penilaian, kondisi yang membatasi, definisi nilai, tujuan penilaian dan tanggal penilaian. Dan agar pembaca atau pemberi tugas (klien) memahami masalah penilaian dari obyek yang dinilai melalui alasan dan diskriptif data yang relevan untuk mendukung suatu opini/kesimpulan nilai.
Laporan penilaian juga dapat berfungsi antara lain sebagai berikut:
a. Menyampaikan kesimpulan Penilai tentang Nilai kepada klien dan atau kepada orang lain yang mungkin berkepentingan dengan hasil penilaian.
b. Sebagai catatan lengkap dan terperinci dari nilai suatu usaha dipandang dari berbagai sudut kegunaan dan kepentingan sesuai dengan keadaan dan situasi yang berlaku.
c. Melindungi usaha dari berbagai kemungkinan yang dapat merugikan pemilik (owner) dari kejadian yang tidak disangka-sangka.
d. Sebagai bahan pengambilan keputusan bagi manajemen dalam rangka pengembangan usaha dan bisnisnya serta meningkatkan kredibilitas dari lembaga-lembaga keuangan maupun masyarakat.
Bentuk dan format laporan penilaian memang seringkali bervariasi. Format laporan penilaian untuk perusahaan penilaian swasta dan untuk instansi pemerintah biasanya berbeda meskipun kandungan isinya sama. Namun secara umum, memberi standar bahwa laporan penilaian setidaknya harus mencakup beberapa hal sebagai berikut :
Identifikasi dan diskripsi mengenai objek yang dinilai. Kegiatan pengidentifikasian ini meliputi pengidentifikasian fisik terhadap lokasi perusahaan, kegiatan, legalitas dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai suatu obyek.
Mengidentifikasi opini yang menjadi tujuan penilaian dan sekaligus kegunaan penilaian itu sendiri. Jenis nilai, tujuan penilaian dan kegunaan penilaian ini sangat terkait erat dan merupakan hal yang sangat penting untuk ditentukan dan diketahui sebelum proses penilaian tersebut dilaksanakan.
Menetapkan tanggal penilaian (date of valuation), tanggal inspeksi lapangan dan tanggal pelaporan. Karena nilai properti dari waktu ke waktu mengalami perubahan seiring dengan dinamika di lapangan, maka tidak ada satu nilai tunggal yang dapat digunakan untuk keperluan sepanjang waktu tanpa ditetapkan tanggal penilaiannya. Tanggal penilaian tersebut menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan adalah nilai tertentu pada suatu tanggal penilaian tertentu pula, dan hal ini penting untuk membatasi tanggung jawab penilai.
Menentukan kegunaan tertinggi dan terbaik (highest & best use) dari saham yang dinilai (jika dianggap perlu). Dalam tujuan penilaian tertentu analisis kegunaan tertinggi dan terbaik ini seringkali dianggap perlu, terutama pada saat melakukan penilaian untuk menentukan nilai potensi suatu perusahaan, studi kelayakan, dan sebagainya. Secara garis besar analisis kegunaan tertinggi dan terbaik ini meliputi suatu kajian untuk kelayakan legalitas dan kelayakan finansial untuk menghasilkan keuntungan yang paling maksimal.
Menerangkan prosedur penilaian yang digunakan. Karena tujuan dari pembuatan laporan adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca/klien yang pada umumnya bukan seorang penilai, maka dalam pelaporan penilaian perlu diuraikan mengenai prosedur penilaian yang digunakan. Jadi setiap pendekatan penilaian yang dipakai secara garis besar harus diuraikan sehingga pembaca mempunyai gambaran mengenai proses bagaimana kesimpulan nilai tersebut dibuat.
Menyediakan/menampilkan data pendukung dan alasan-alasan yang mendukung analisis, opini dan kesimpulan nilai dalam laporan. Ketersediaan data pendukung merupakan hal pokok yang perlu ada untuk mendukung analisis dalam menghasilkan suatu kesimpulan nilai.
Hampir semua pendekatan penilaian (valuation approachs) pasti memerlukan dan mendasarkan pada informasi dari properti pembanding dan juga data-data pendukung lain, baik data instansional maupun non instansional yang dapat memperkuat opini dan pengambilan kesimpulan nilai. Semua data pembanding dan data pendukung ini harus dimuat di dalam laporan penilaian sebagai bukti yang memperkuat kesimpulan nilai.
Menerangkan semua asumsi dan batasan (limiting condition) yang mempengaruhi analisis, opini dan kesimpulan nilai. Penilai dalam memberikan opini nilainya tidaklah mutlak benar dan bisa berlaku sepanjang masa serta dapat digunakan untuk berbagai jenis kepentingan. Untuk membatasi tanggung jawab penilai, maka perlu dibauat bagian khusus yang menerangkan sebatas mana penilai bertanggung jawab atas opini nilai yang diberikannya. Dalam asumsi dan batasan ini penilai menyatakan batas tanggung jawabnya, sehingga bila ada suatu kasus tertentu yang melibatkan suatu perkara hukum di pengadilan, maka tanggungjawab penilai hanyalah sebatas apa yang diuraikan dalam asumsi dan batasan (limiting condition) yang dinyatakan dalam laporan penilaian.
Laporan penilaian dapat disajikan dalam bentuk:
1. Laporan Lisan;
Laporan Lisan (Oral Report) adalah laporan lisan dari penilai. Laporan ini diperlukan jika keadaannya mendesak atau klien tidak memerlukan pelaporan secara tertulis. Namun bentuk laporan penilaian lisan dalam praktek saat ini jarang sekali dilakukan.
Laporan penilaian walau disajikan secara lisan, namun tetap harus disajikan secara akurat. Adapun hal yang paling minimal harus dilaporkan adalah:
• Pendahuluan
Dalam pendahuluan disajikan mengenai identifikasi klien, obyek yang dinilai, maksud dan tujuan penilaian, definisi standar nilai, tanggal efektif penilaian.
• Asumsi dan Syarat Pembatas
Dalam asumsi dan syarat pembatas diuraikan mengenai asumsi yang dipakai dalam melakukan analisa penilaian dan syarat apa saja yang membatasi.
• Pernyataan Independensi
Dalam pernyataan ini diuraikan bahwa Penilai dalam melakukan penilaian tidak memiliki kepentingan apapun atas obyek penilaian dan pihak-pihak yang terlibat didalamnya.
• Kesimpulan Penilaian
Dalam kesimpulan penilaian dsajikan berapa nilai yang dihasilkan pada suatu tanggal tertentu berdasarkan penugasan yang diberikan.
2. Laporan tertulis;
• Laporan dalam bentuk surat;
• Laporan lengkap tertulis.
2.1 Laporan dalam bentuk Surat (Pernyataan Penilai)
Laporan penilaian dalam bentuk surat (Letter Report) adalah laporan penilaian yang berbentuk surat dan berisikan hasil investigasi dan analisis yang disimpulkan dalam sebuah surat. Estimasi nilai disampaikan melalui suatu surat yang disahkan dengan tanda tangan penilai. Surat ini biasanya hanya berisi opini nilai dari properti, tanpa disertai dukungan data, informasi dan analisis.
Laporan semacam ini biasanya disiapkan atas permintaan pelanggan (klien), namun setidaknya laporan berbentuk surat ini berisikan tentang:
1. Kontrak Kerja
2. Maksud dan tujuan dilakukan penilaian
Pernyataan mengenai tujuan penilaian. Tujuan penilaian dalam hal ini harus scara jelas dinyatakan, karena terkait dengan jenis nilai yang dihasilkan. Seperti contoh jika tujuan penilaian adalah untuk jual-beli, maka jenis nilai yang dihasilkan adalah nilai pasar wajar (fair market value).
3. Ruang lingkup penilaian
4. Sumber data
Sumber data yang digunakan oleh penilai harus diungkapkan secara garis besar. Nama-nama dan jenis data yang digunakan. Tidak perlu seluruh lampiran data diungkapkan.
5. Jangka waktu penilaian
6. Diskripsi mengenai bentuk analisis yang dipakai. Meskipun tidak secara detail diuraikan, deskripsi mengenai bentuk analisis yang dipakai adalah perlu dikemukakan, setidaknya dikemukakan mengenai pendekatan penilaian yang digunakan untuk menganalisis nilai.
7. Tanggal penilaian, tanggal pelaporan dan semua batasan-batasan masalah (limiting condition).
Tanggal penilaian dalam hal ini adalah terkait dengan tanggal dimana nilai tersebut ditetapkan, sedangkan tanggal pelaporan adalah lebih menunjukkan pada tanggal aktual dibuatnya laporan tersebut. Mengenai batasan masalah, meskipun singkat juga perlu dinyatakan dalam laporan penilaian berbentuk surat ini karena hal ini penting untuk menunjukkan tanggung jawab dan wewenang penilai atas opini nilai yang dihasilkannya.
8. Sertifikasi nilai/pernyataan tentang kesimpulan nilai. Sertifikasi nilai ini merupakan bagian terpenting dari surat. Dalam hal ini penilai perlu menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis yang seksama dengan memperhatikan semua data dan berdasarkan pada pengalaman, maka penilai memberikan opini besarnya nilai properti yang dianalisis.
9. Kesimpulan nilai;
Laporan penilaian dalam bentuk surat, kerapkali digunakan untuk melaporkan hasil penilaian yang bersifat harus diungkapkan dengan segera dalam kondisi tertentu. Setelah laporan dalam bentuk surat disampaikan, dalam jangka waktu singkat laporan tertulis lengkap harus disampaikan.
2.2 Laporan Tertulis
Dalam laporan lengkap tertulis, disajikan secara terperinci hal-hal berikut :
a. Surat Pernyataan Penilai (Sertifikasi)
Surat Pernyataan Penilai adalah surat yang ditujukan kepada semua pihak terkait mengenai hal-hal dasar yang berhubungan dengan penugasan yang dilakukan oleh Tim Penilai. Dengan surat ini diharapkan semua pihak dapat mengetahui beberapa hal prinsip yang menjadi landasan hukum bagi Tim Penilai dalam melakukan penugasan dan saat telah berakhirnya penugasan.
Surat Pernyataan Penilai berfungsi sebagai :
Dasar hukum dilakukan penilaian;
Identifikasi Tim Penilai;
Ruang lingkup penilaian;
Asumsi dan syarat-syarat pembatasan penugasan penilaian;
• Diasumsikan bahwa penilai tidak memiliki kepentingan apapun terhadap obyek penilaian;
• Data yang digunakan : Penilai bergantung pada data dan akses pada sumber data yang tersedia;
• Validitas penilaian : Hasil penilaian hanya berlaku pada tanggal penilaian dan untuk tujuan penilaian.
Kesimpulan Nilai
Tanggal dilakukan penilaian;
Tanda tangan.
b. Daftar ISI
1. Surat Pengantar
Sering juga disebut sebagai Letter of Transmital merupakan surat yang dibuat oleh penilai kepada pelanggan (klien) yang menyatakan bahwa penilai telah melakukan penilaian atas obyek yang ditunjuk pada tanggal tertentu dan untuk tujuan tertentu serta pernyataan/opini nilai atas obyek yang dinilai. Surat pengantar ini berisikan antara lain :
tanggal surat dan pihak yang memberi tugas.
Dalam surat pengantar ini harus disebutkan dasar dari pemberian tugas untuk melaksanakan penilaian, yaitu dari pihak mana dan bersasarkan surat nomor dan tanggal berapa.
pernyataan identifikasi kepentingan-kepentingan yang terdapat dalam properti yang dinilai, yaitu terkait dengan jenis hak dan batasan-batasan apa saja yang dinyatakan ke atas hak yang dimiliki.
pernyataan mengenai telah dilaksanakannya penugasan penilaian. Hal ini penting sebagai pernyataan tanggungjawab penilai terhadap tugas yang diberikan klien kepadanya.
tanggal penilaian efektif, yaitu tanggal di mana nilai tersebut ditetapkan dan biasanya tanggal penilaian disesuaikan dengan tujuan penilaiannya.
estimasi nilai, yaitu pernyataan mengenai besarnya nilai usaha yang diestimasi.
batasan masalah, menyatakan batasan wewenang dan tanggungjawab yang ditanggung penilai.
tanda tangan penilai.
2. Surat Pernyataan Penilai (Sertifikasi)
Yaitu sertifikasi nilai yang disertai dengan pernyataan nilai akhir, tanda tangan penilai, tanggal dan cap/stempel dengan uraian/pernyataan
3. Bab I : Ringkasan Eksekutif
Rangkuman ini diperlukan bila laporan terlalu panjang dan terdiri dari beberapa obyek. Mengawali laporan penilaian, penilai juga harus menyatakan siapa pemberi tugas, untuk siapa laporan tersebut dibuat dan menyatakan bahwa properti telah dilakukan pemeriksaan/inspeksi. Penilai dalam hal ini juga dapat menegaskan batasan-batasan penggunaan laporan penilaian tersebut dan tanggungjawab penilai hanya terbatas pada tujuan sebagaimana dinyatakan dalam laporan, kecuali klien telah meminta ijin terlebih dahulu kepada penilai.
Ringkasan eksekutif adalah uraian singkat yang meliputi :
• Latar belakang berdirinya perusahaan;
• Latar belakang diperlukannya penilai untuk tujuan tertentu dari perusahaan;
• Dasar dari Penilai dalam melakukan penilaian. Dasar yang digunakan dalam melakukan penilaian khususnya di Indonesia adalah Standar Penilaian Indonesia Tahun 2002, KEPI dan standar internasional lainnya yang relevan terhadap penilaian yang dilakukan;
• Independensi dari Penilai;
• Definisi dan istilah yang digunakan oleh Penilai.
Umumnya definisi dan istilah yang digunakan adalah yang berlaku umum dalam profesi penilai.
4. Bab II : Syarat-syarat dan Kondisi Pembatas
Asumsi dan kondisi pembatas ini dinyatakan dalam laporan adalah bertujuan untuk melindungi penilai terhadap kemungkinan penyalahgunaan hasil penilaian yang telah dilakukan. Asumsi dan kondisi pembatas yang sering dimasukkan dalam laporan penilaian antara lain adalah asumsi “pasar wajar”opini yang berbeda, dasar yang dipakai dalam menentukan nilai saham, tanggal dan tujuan yang spesifik dilakukannya penilain serta batas tanggungjawab penilai.
Syarat-syarat dan kondisi pembatas adalah ruang lingkup yang digunakan oleh penilai dalam melaksanakan kegiatan. Syarat-syarat dan kondisi pembatas sangat diperlukan agar tujuan dan maksud penugasan dapat terlaksana dengan baik. Dan juga dapat mengurangi bias penilai dalam melaksanakan kegiatan.
Syarat-syarat dasar yang dibutuhkan seorang penilai adalah :
1. Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh KAP selama 3 tahun;
2. Laporan Internal yang dikeluarkan oleh internal audit yang telah disahkan oleh manajemen;
3. Data-data primer dan sekunder perusahaan;
4. Data-data lain yang telah dipublikasikan dan diyakini keakuratannya;
5. Bila data yang diberikan oleh perusahaan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya maka hal tersebut diluar tanggung jawab penilai;
6. Jika ada beberapa jenis mata uang yang digunakan maka penilaian harus menggunakan mata uang rupiah (idr) dengan melakukan konversi atas mata uang asing pada tanggal tertentu oleh lembaga pemeringkat independen;
7. Sejarah/riwayat pertumbuhan perusahaan;
8. Produk/jasa yang dihasilkan;
9. Pasar dan pemasaran;
10. Manajemen;
11. Aktiva baik yang berwujud maupun tidak berwujud;
12. Tinjauan umum tentang makro ekonomi, industri dan perusahaan yang bersangkutan;
13. Transaksi kepemilikan usaha dari obyek penilaian yang pernah terjadi sebelumnya.
14. Sensitivitas terhadap faktor pengaruh musim atau siklus usaha;
15. Persaingan;
16. Sumber data yang digunakan.
Kondisi pembatas umumnya terbagi menjadi 2 kategori :
Yang diakibatkan oleh pihak manajemen
Pembatasan yang dilakukan oleh pihak manajemen bisa terjadi karena adanya penafsiran yang berbeda mengenai suatu hal ataupun kesengajaan dari pihak manajemen untuk tidak memberikan informasi sesuai kondisi yang sebenarnya.
Yang disebabkan oleh keadaan diluar kekuasaan kedua belah pihak.
Pembatasan akibat oleh keadaan diluar kekuasaan kedua pihak dapat lebih diterima apabila ada informasi yang detail.
Pengaruh atas ruang lingkup dapat memberikan kesimpulan hasil penilaian yang berbeda. Oleh karena itu bila pembatasan ruang lingkup penilaian harus diungkapkan dalam laporan penilai independen.
5. Bab III : Uraian mengenai Perusahaan
a. Informasi mengenai perusahaan dan legalitas perusahaan.
Pada umumnya yang patut menjadi perhatian dari penilai adalah kegiatan utama dari perusahaan, lokasi perusahaan dan ijin dari pihak terkait atas usaha yang sedang berjalan;
b. Pengurus dan pemegang saham;
Perubahan anggaran dasar mengenai pemegang saham harus diketahui oleh penilai dan komposisi pemegang saham sehingga penilai mempunyai data awal untuk menentukan diskon atau premi sesuai kepentingan penilaian.
c. Organisasi dan manajemen perusahaan;
d. Kondisi operasional perusahaan dan usaha yang sedang berjalan;
e. Analisa keuangan perusahaan;
f. Resiko usaha.
6. Bab IV : Uraian mengenai Industri
Kondisi dan Analisis Industri;
Prospek Industri;
Analisa SWOT
7. Bab V : Metodologi dan Asumsi Penilaian
Dalam bagian ini penilai menguraikan secara ringkas semua metode penilaian yang digunakan, baik secara pendekatan aktiva, pendekatan pendapatan (income approach) maupun pendekatan perbandingan data pasar (market data approach) yang seusai dengan tujuan penilaian tersebut dilakukan. Selain menguraikan mengenai metode penilaian yang digunakan adalah cukup penting juga untuk menyatakan bangaimana proses dan hasil penilaian yang dihasilkan serta rekonsiliasi nilai dari metode-metode penilaian yang dipakai.
Pendekatan dalam penilaian;
Pemilihan metodologi;
Premi Kendali dan Diskon Minoritas;
Asumsi Penilaian (kondisi as is);
Asumsi Penilaian (kondisi value enhancement).
8. Bab VI : Perhitungan Penilaian
Menjelaskan metode yang digunakan
Apabila perusahaan dalam keadaan going concern, maka harus dihitung berdasarkan kondisi value enhancement.
Diberikan penjelasan identitas pembanding atas objek penilaian.
Melakukan diskon dan premi dengan perhitungan yang jelas.
Melakukan rekonsiliasi nilai.
9. Bab VII: Kesimpulan dan Saran
• Penilai memberikan kesimpulan hasil penilaian berdasarkan saat dan waktu tertentu yang dimintakan.
• Penilai juga memberikan beberapa nilai berdasarkan saat dan waktu tertentu berdasarkan metode yang digunakan dalam menilai kondisi perusahaan.
• Jika penilai mempunyai pendapat tambahan atas asumsi yang terjadi pada saat ini yang dapat memberikan pengaruh terhadap hasil penilaian, maka Penilai pun harus memberikan saran.
Dari berbagai indikasi nilai yang dihasilkan dari tiap metode yang dipakai serta setelah melakukan rekonsiliasi nilai, maka selanjutnya dalam bagian ini penilai menyampaikan keputusan tentang opini nilai yang dihasilkannya. Kesimpulan nilai properti ini harus disertai tandatangan asli dari penilai dan sebaiknya antara halaman kesimpulan nilai dan tanda tangan penilai tidak terdapat pada halaman yang terpisah, yaitu untuk tujuan keamanan dan guna menghindari adanya pemalsuan.
10. Tabel dan Gambar
Dalam Laporan Hasil Penilaian diperlukan beberapa tabel yang akan dipakai oleh pengguna untuk mengetahui data yang digunakan oleh Penilai sebagai bahan melakukan analisa.
Tabel-tabel ini harus disusun dengan rapi dari sesuatu yang bersifat umum sampai dengan khusus sesuai urutan uraian dalam laporan. Pada umumnya, table yang dilampirkan adalah :
• Komposisi Pemegang Saham
• Pertumbungan industri
• Neraca
• Laba Rugi
• Laba di Tahan
• Rasio Keuangan
• Nama perusahaan pembanding
• Posisi objek terhadap industri sejenis
• Perhitungan rekonsiliasi
• Review kepatuhan terhadap industri sejenis
• Matriks SWOT
11. Lampiran
Surat Pernyataan Penilai
xxxx
1. Penilai Publik Terdaftar
Alamat
12. Tanggal
13. Judul Laporan Laporan Penilaian Saham PT xxxx
14. Ditujukan
15. Paragraf Pendahuluan
(pernyataan dasar hukum, tujuan dan data aktual)
Berdasarkan Kontrak Kerja No … tanggal … tentang … antara … dan … , kami telah melakukan penilaian atas saham PT xxx per tanggal …. atas permintaan PT xxx atau PT yyy atau dll. Data yang kami gunakan dalam melakukan penilaian adalah Lap Keu PT xxx yang telah diaudit KAP selama 3 terakhir dan Lap Internal PT xxx yang dikeluarkan oleh Komite Internal Audit dan disahkan oleh Komisaris PT xxx (untuk perusahaan terbuka) serta data-data lainnya yang terkait dalam melakukan penilaian baik yang dikeluarkan oleh PT xxx maupun yang telah dipublikasikan oleh pihak lain yang dapat dipercaya keakuratan informasi yang diberikan.
16. Paragraf Ruang Lingkup
(pernyataan batasan dan kondisi penilai)
Kami telah melakukan penilaian sesuai dengan Standar Penilai Indonesia Tahun xxx dan Kode Etik Penilai Indonesia atas saham PT xxx sebagai suatu usaha yang xxx (going concern atau pailit atau lainnya). yang merupakan perusahan xxx (terbuka atau tertutup). Kami melakukan peninjauan lapangan pada tanggal xxx s.d xxx dan mengadakan wawancara dengan manajemen dan pihak lain yang terkait dan relevan dalam melakukan penilaian untuk mendapatkan informasi yang memadai mengenai obyek penilaian. Data yang kami berupa data primer dan sekunder serta data khusus dan spesifik baik dari pihak manajemen maupun pihak lain yang telah dipublikasikan dan telah diyakini secara umum keakuratannya. Bila ternyata data-data yang kami peroleh tidak sesuai dengan keadaan sesungguhnya, maka hal tersebut diluar tanggung jawab kami.
17. Paragraf Metodologi dan Informasi Analisa
(pernyataan teknik penilaian atas tujuan dan)
Penilaian atas PT xxx bertujuan untuk menentukan Nilai Pasar dari saham PT xxx dengan memperhatikan semua data yang kami peroleh untuk mengambil kesimpulan mengenai nilai saham PT xxx. Pendekatan dan metodologi penilaian yang kami lakukan adalah pendekatan dan metodologi sesuai dengan asumsi awal terhadap pt xxx pada saat kondisi dan keadaan penilaian dilakukan. Kami melakukan aplikasi discount for lack of marketability sebesar xxx % atau premi of marketability sebesar xxx %
18. Paragraf Pendapat
(kesimpulan)
Berdasarkan analisa kami, kami berkesimpulan bahwa nilai pasar wajar atas saham PT xxx adalah sebagai berikut :
Tanggal Kondisi Nilai Pasar Wajar
as is
value enhancement
khusus
19. Nama Penilai
20. Tanda Tangan Penilai
(beserta nomor ijin registrasi pemerintah)
21. Tanggal Laporan Penilaian
(tanggal berakhirnya penilaian lapangan)
Bagian Laporan Penilaian
1. KOP Surat
Dalam kop surat ini dijelaskan identitas penilai beserta alamat dan dasar hukum yang memberikan informasi mengenai legalitas untuk melakukan penilaian. Pada umumya dalam dunia profesi, nama kantor tersebut akan bertanggung jawab secara hukum dan jabatan atas kualitas seorang Penilai berdasarkan standar profesi dan kode etik profesi.
2. Tanggal
Tanggal adalah menyatakan bahwa saat dan waktu tertentu,laporan penilaian telah secara sah diterbitkan oleh Penilai kepada pemberi penugasan agar memudahkan pengarsipan pada saat tertentu.
3. Judul
Dalam judul diungkapkan tujuan penilaian. Dalam banyak kasus penilaian bukan hanya ditujukan pada penilaian saham PT xxx dalam kondisi normal, kemungkinan juga ketika dalam keadaan pailit ataupun going concern PT xxx diragukan. Sehingga ketika membaca judul Laporan Penilaian, setiap pembaca sudah dapat memprediksikan keadaan yang sebenarnya terjadi.
4. Ditujukan
Penilai harus memberikan data mengenai Laporan Hasil Penilaian ditujukan kepada pihak yang berhak ataupun yang terkait. Dalam membuat kontrak kerja, ada kemungkinan penugasan diberikan oleh beberapa pihak, sehingga harus jelas bahwa Laporan Hasil Penilaian ini ditujukan kepada pihak yang mempunyai kepentingan. Dan Laporan Hasil Penilaian harus identik dan sama kepada berbagai pihak.
5. Paragraf Pendahuluan
Paragraf pendahuluan dari laporan ini ditujukan untuk tiga hal. Pertama, paragraf ini merupakan pernyataan dari Penilai bahwa penilai telah melakukan penilaian dengan adanya kontrak kerja yang sah antara pemberi penugasan dengan penilai.
Kedua, paragaraf ini menjelaskan tujuan dari penilaian tersebut dalam ruang lingkup tertentu yang diminta oleh pemberi penugasan. Ketiga adalah menjelaskan data-data yang digunakan oleh Penilai dalam melakukan penugasan baik data yang didapat dari pihak pemberi penugasan ataupun data lain yang dipublikasikan sehingga semua pihak yang mempunyai kepentingan atas Laporan Hasil Penilaian dapat mengetahui dan tidak mempunyai asumsi diluar data yang digunakan oleh Penilai.
Untuk usaha yang berbentuk badan hukum perusahaan yang telah dipasarkan di bursa efek, harus juga memberikan Laporan Audit Internal yang telah disahkan oleh Komisaris Perusahaan sebagai persyaratan dalam melakukan penilaian.
6. Paragraf Ruang Lingkup
Paragraf ini menjelaskan dua hal yaitu pernyataan faktual tentang yang dilakukan oleh Penilai, bahwa Penilai melakukan penilaian sesuai kaidah Ilmu Penilaian dengan standar-standar penilaian yang diterapkan secara umum di Indonesia beserta Kode Etik yang harus dipegang oleh Penilai. Dalam paragraf ini dijelaskan pula jangka waktu penilaian dilakukan
Kedua menjelaskan tanggung jawab dari Penilai atas data-data yang didapat oleh Penilai baik dari pihak pemberi penugasan dan data-data lain yang dipublikasikan. Penilai tidak bertanggung jawab atas kebenaran data yang telah diberikan ataupun yang dipublikasikan jika hasil penilaian tidak sesuai dengan kondisi yang nyata.
7. Paragraf Metodologi dan Informasi Analisa
Paragraf ini menjelaskan metodologi yang dilakukan oleh Penilai dalam melakukan penilaian terhadap data-data yang diperoleh. Kemudian Penilai juga memberikan informasi mengenai hasil analisa yang telah dilakukan sesuai metodologi penilaian sesuai kaidah akademis.
8. Paragraf Pendapat
Paragraf terakhir dalam laporan ini menyatakan kesimpulan Penilai berdasarkan hasil penilaian. Bagian ini sangat penting karena pada paragraf inilah seorang penilai memberikan pendapat. Hal yang harus dipahami oleh semua pihak adalah paragraf pendapat dengan tegas menyatakan sebuah pendapat, bukan pernyataan mutlak ataupun jaminan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa kesimpulan tersebut didasarkan atas pertimbangan professional.
9. Nama Penilai
Nama Penilai harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Penilaian. Didalam sebuah kantor penilai ada beberapa penilai yang bergabung dan bekerja sama, sehingga diperlukan identitas yang jelas mengenai Penilai yang melakukan penugasan. Jika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan hasil penilaian yang harus dikonfirmasikan kepada kantor penilai, maka nama orang tersebut harus dapat memberikan keterangan mengenai hasil penilaian yang dilaksanakan.
10. Tanda Tangan
Tandan tangan Penilai berfungsi untuk memperkuat Laporan Hasil Penilaian. Dan hasil penilaian akan dinyatakan diterima secara hukum dengan adanya tanda tangan dari Penilai tersebut.
11. Tanggal Penilaian
Penilai harus mencantumkan tanggal atas pendapat nilai yang dikeluarkan, sehingga semua pihak dapat langsung mengetahui pendapat Penilai pada saat dan kondisi tertentu.
gtp 7 apr 07
Subscribe to:
Posts (Atom)